Warga Aceh Harus Selalu Siap dengan Bencana

Evakuasi korban gempa Pidie Jaya Aceh, Rabu (7/12/2016)/ AFP

ACEH – Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia wilayah Aceh, Faizal Adriansyah mengatakan jika warga Aceh harus siap hidup bersama dengan bencana, atau  jika Aceh mau bebas bencana maka harus dikosongkan, dan hal tersebut adalah mustahil.

“Harus dibangun paradigma hidup bersama bencana,” katanya.

Namun menurutnya harus ada beberapa konsekuensi dari paradigma tersebut, antara lain adanya pendidikan tentang mitigasi bencana di sekolah dan regulasi kualitas bangunan yang tahan gempa, terutama bangunan seperti rumah sakit.

“Bisa dibayangkan, kalau rumah sakit mudah roboh, ke mana para korban akan berobat ketika terjadi gempa?” kata Faizal.

Tak hanya rumah sakit yang kokoh, sekolah dan rumah-rumah warga mestinya juga bisa tahan terhadap gempa.

Ia menjelaskan bahwa gempa yang terjadi Rabu (7/12/2016) kemarin adalah gempa darat yang terkait dengan Patahan Sumatera. Patahan yang menyimpan energi besar dan apabila suatu saat energi tersebut dilepaskan maka akan menimbulkan gempa.

Patahan Sumatera ini memiliki beberapa segmen di Aceh, yaitu Patahan Lokop-Kutacane, Patahan Blangkeujeren-Mamas, Patahan Kla-Alas, Patahan Reunget-Blangkeujeren, Patahan Anu-Batee, Patahan Samalanga-Sipopoh, Patahan Banda Aceh-Anu, dan Patahan Lamteuba-Baro.

“Gempa yang terjadi pada Rabu pagi itu dari segmen Patahan Simalongo-Sipopoh,” jelasnya.

Risiko gempa darat antara lain adalah bisa terjadi di dekat permukiman penduduk. Tergantung dengan kedalaman gempa, dampaknya bisa sangat serius. Jika gempanya dangkal, dampak kerusakan bisa sangat serius karena energi yang dilepaskan ke permukaan masih besar.

Faizal menjelaskan bahwa belum diketahui hubungan langsung antara satu gempa dengan gempa yang lain.

“Tetapi setiap gempa di bawah Bumi itu memicu getaran di seluruh lapisan Bumi. Wilayah-wilayah yang rentan, pasti akan sangat terganggu stabilitasnya. Jadi, bisa saja mestinya gempa akan terjadi 100 tahun lagi, tapi karena ada gempa besar yang memicunya, maka suatu gempa bisa terjadi lebih cepat,” kata Faizal, dikutip dari BBC.

 

Advertisement