Gugur di Medan Celaka

Pesawat hercules TNI AU Jatuh di Wamena/ Tribunnews

Dukacita dan rasa keprihatinan mendalam kita layangkan pada segenap sanak-keluarga awak pesawat Hercules C-130 HS milik TNI-AU yang gugur dalam kecelakaan di Wamena, Minggu pagi.

Musibah demi musibah kecelakaan pesawat udara militer terjadi secara beruntun di negeri ini, dan penyebabnya selalu menjadi misteri.

Dua belas awak pesawat dan seorang anggota TNI yang ikut dalam penerbangan latihan tersebut meninggal di lokasi kejadian di kawasan Gunung Tugima, tidak jauh dari Bandara Wamena.

Wakasau Marsekal Madya Hadiyan Sumintaatmaja menyebutkkan, pengoperasian pesawat udara dikenal dengan istilah 5M yakni manusia, materi, mesin, manajemen dan misi.   Nah, disini lah persoalannya. Apakah selama ini kelima unsur itu sudah dipenuhi dan diawasi secara benar?

Atas nama kerahasiaan militer  dan sudah menjadi rahasia umum pula, publik meragukan transparansi mulai dari proses pengadaan alutsista sampai perawatannya.

Tangan KPK tidak bisa menjamah  kemungkinan terjadinya manipulasi anggaran pengadaan alutsista, sedangkan Komisi Nasional Keselamatan Penerbangan (KNKT) tidak berwenang menginvestigasi kecelakaan pesawat militer.

Hercules C-130 adalah jenis pesawat angkut sedang bermesin empat turboprop, diproduksi Lokheed Martin, AS sejak 1957. Sampai saat ini sudah lebih 2.300 unit Hercules diproduksi dan digunakan puluhan negara termasuk RI.  Berbagai  varian Hercules dibuat untuk misi berbeda, seperti patroli maritim, evakuasi medis, bahkan sebagai “gunship,” dilengkapi kanon untuk membantu serangan darat.

“Berdasarkan laporan awal, pesawat jatuh akibat cuaca buruk.  Investigasi secara menyeluruh pasti dilakukan, “ kata Hadiyan.  Namun sejauh ini, publik tidak pernah tahu hasil penyelidikan yang dilakukan secara internal sampai terjadi kecelakaan-kecelakaan berikutnya.

Marsdya Hadiyan juga menampik spekulasi, pesawat kelebihan beban (overload), karena misinya adalah latihan peningkatan promosi awaknya (dari kopilot menjadi pilot). Kapten Hontian Saragih dan dan Lettu  Pnb. Hanggo Fitradhi  sebagai kopilot mendampingi pilot sekaligus instruktur, Mayor Pnb. Marlon A Kawer.

Sudah menjadi rahasia umum, selain melaksanakan misinya, pesawat angkut militer kadang-kadang juga sering digunakan mengangkut barang atau penumpang “titipan”, prajurit, kerabat TNI maupun umum (membayar tentunya).

Adanya masalah menyangkut anggaran, tercermin dari kasus Brigjen (TNI) Teddy Hernaya yang divonis seumur hidup oleh Pengadilan Tinggi Militer (PTM) (23/11) karena terbukti menilap dana proyek hibah pengadaan pesawat tempur F-16 Fighting Falcon dari Amerika Serikat.

Tidak tangung-tanggung, Teddy yang saat itu berpangkat kolonel bisa meraup uang sebesar 12,4 juta dolar AS atau setara Rp167,4 milyar dari suatu proyek hibah. Kasus Teddy diharapkan banyak pihak menjadi pintu masuk untuk menguak praktek korupsi lainnya di lingkungan instansi militer.

Praktek korupsi yang dilakukan Teddy agaknya tidak terlalu mengagetkan, mengingat sejauh ini selain sistem pengadaan peralatan yang tertutup , juga melalui proses panjang dan berbelit serta melibatkan banyak satuan kerja.

diproduksi lebih 2.300 unit

Hercules C-130 adalah jenis pesawat angkut sedang bermesin empat turboprop, diproduksi Lokheed Martin, AS sejak 1957. Sampai saat ini sudah lebih 2.300 unit Hercules diproduksi dan digunakan puluhan negara termasuk RI.

Berbagai varian Hercules dibuat untuk misi berbeda, seperti patroli maritim, evakuasi medis, bahkan sebagai “gunship,” dilengkapi kanon untuk membantu serangan darat. Hercules yang jatuh di Wamena adalah salah satu dari empat pesawat berasal dari  hibah AU Australia (RAAF).

Enam musibah fatal terjadi atas enam pesawat Hercules TNI-AU lainnya. Pada 3 Sept. ‘64, pesawat yang mengangkut 47 angggota pasukan PGT (Kopasgat) hilang di Selat Malaka di tengah konfrontasi dengan Malaysia.

Pada 16 Sept. ’65 Hercules TNI-AU jatuh di Long Bawang, Kaltim, kemungkinan salah tembak, kemudian pada 5 Oktober ’91 di kawasan Condet, Jakarta Timur saat mengangkut pasukan usai defile HUT TNI,  pada 21 Nov. ’85 menghunjam Gunung Sibayak, Sumut, dan pada 20 Mei 2009 jatuh  di kawasan pemukiman di Magetan, kemudian  pada 30 Juni 2015  jatuh di tengah kota Medan.

Selain musibah Hercules di Wamena, pesawat TNI (sebuah milik Polri) yang jatuh sejak 2015 adalah dua pesawat aerobatic KT-1B Wong Bee di Langkawi, Malaysia, pesawat latih lanjutan Golden Eagle T50i di Yogyakarta dan  pesawat pembom taktis Super Tucano di tengah kota Malang.

Sebuah helikopter Bell 412 EP  jatuh di kawasan Taman Kayang Mentayang, Kaltim dan sebuah lagi di Poso Pesisir. Sebuah pesawat M28 Sky Truck milik Polri kecemplung di Perairan Lingga, Riau. Sangat disayangkan, sebagian pesawat yang terkena musibah relatif baru.

Dituntut “goodwill” pucuk pimpinan dan para petinggi TNI lainnya untuk membuka diri menyangkut  alutsista, mulai dari penganggaran pengadaannya serta perawatannya, sampai investigasi terhadap kecelakaan yang terjadi.

Semoga anekdot “Tanpa ditembak musuh, pesawat TNI jatuh sendiri” tidak menjadi kenyataan, karena sangat disayangkan jika prajurit-prajurit TNI yang merupakan putera-putera terbaik bangsa, gugur di medan “celaka”, bukan di medan jaya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement