PENDUDUK kota Aleppo bisa menghirup nafas lega sementara, terhindar dari bau mesiu dan anyir darah di tengah berkecamuknya perang selama empat tahun sejak kota itu dikuasai kelompok anti rezim petahana Suriah, Bashar al-Asaad.
Berdasarkan “deal-deal” antara Rusia,Iran dan Turki – tanpa keikutsertaan pemangku kepentingan lainnya, AS – pasukan perlawanan yang didukung lasykar Fath al-Syam mengibarkan “bendera putih”, bersedia meninggalkan Aleppo.
Puluhan ribu warga kota yang sebelumnya terperangkap di tengah konflik, dengan bus-bus organisasi internasional yang dikoordinasikan PBB diungsikan ke lokasi yang lebih aman di luar kota Aleppo.
Pasukan al-Assad mengklaim telah menguasai seluruh penjuru kota, termasuk Aleppo timur, basis terakhir milisi oposisi. Alat-alat berat mulai membersihkan puing-puing reruntuhan bangunan di kota yang porak-poranda akibat konflik itu.
Anggota kelompok perlawanan yang hanya diizinkan membawa senjata ringan, dibiarkan melenggang keluar Aleppo, sebagian besar menuju wilayah Idlib yang masih dikuasai mereka.
Jatuhnya kota tua itu ke tangan pasukan pemerintah Suriah tidak terelakkan akibat . gempuran pasukan al-Asaad didukung bombardemen jet-jet tempur Rusia yang akhirnya memaksa kubu perlawanan bertekuk lutut .
Modal semangat, tidak cukup
Bermodalkan tekad dan semangat saja, pasukan perlawanan ternyata keteteran menghadapi mesin perang pasukan al-Asaad, didukung ratusan tank, jumlah pasukan lebih besar berapa kali lipat dan juga kekuatan udara Rusia.
Melemahnya dukungan Turki, pemasok logistik dan persenjataan utama kelompok perlawanan, ikut mempercepat kejatuhan Aleppo. Bagi Turki, mengamankan Operasi Perisai Eufrat guna mencegah berdirinya negara federal Kurdi yang membentang dari wilayah Afrin sampai Kobane agaknya diangap lebih penting.
Konflik Suriah selain persoalan dalam negeri antara penentang dan pendukung rzim al-Assad, juga terjadi akibat akumulasi kepentingan dan perebutan pengaruh dan konspirasi politik para pemangku kepentingan.
Di tingkat sektarian (antara sekte Sunni dan Syiah), di tingkat nasional (rezim al-Assad melawan kelompok perlawanan), perebutan pengaruh dan kepentingan regional (antara Arab Saudi, Turki di satu pihak dan Iran, Irak dan Kurdi di pihak lain) serta di tingkat global, antara AS dan Rusia).
Dua juta warga Suriah hengkang, menyabung nyawa menyeberangi Laut Mediteranea atau melintasi daratan Turki menuju Eropa, sekitar 12 juta kehilangan nafkah dan 320.000 korban tewas terperangkap di tengah konflik.
Majelis Umum PBB, atas usulan negara kecil Liechtenstein (21/11) , telah menyepakati pembentukan panel khusus guna mengumpulkan bukti-bukti kejahatan perang yang akan mengawali investigasi mengenai pihak-pihak bertanggungjawab atas kekejaman dan pelanggaran HAM di Suriah.
Yang dipertanyakan saat ini. Apakah jeda pertumpahan darah di Suriah pasca jatuhnya Aleppo bisa menjamin perdamaian dalam jangka panjang, mengingat banyaknya pemangku kepentingan yang bermain di sana.
Kelompok perlawawan yang sementara ini kalah dan menjadi pecundang, apakah akan berdiam diri dan merelakan al-Assad bersama rezimnya tetap bercokol di tampuk kekuasaan Suriah?
Sejarah akan mencacat nanti, apakah tragedi kemanusiaan rakyat Suriah akan berujung.
,





