“MALAM tahun baru begini masak kita nduwel di rumah saja. Ajak aku dong, jalan-jalan lihat pesta tahun baru 2017 di alun-alun Ngastina.” Kata Raden Destarata pada istrinya, Dewi Gendari.
“Ngapain ke sono-sono. Semuanya tetap saja gelap, wong sampeyan buta.” Jawab Gendari kesal, karena suami tak menyadari kekurangan akan pisiknya.
Raden Destarata memang buta sejak balita. Andaikan tak cacat seperti itu, putra sulung Prabu Abiyasa, ini berhak menjadi penerus dinasti Ngastina. Ternyata dia terkena trachoom kronis. Walhasil saat Prabu Abiyasa lengser, tampuk pimpinan Ngastinapura diserahkan kepada Pandu, putra kedua. Sesungguhnya Destarata tidak legawa. Tapi betapapun telah membentuk poros tengah segala, Wanjakti (Dewan Pejabat Tinggi) Ngastina tetap menolak dengan alasan Destarata tidak sehat jasmani dan rokhani.
Realita politik tersebut bukan saja bikin frustrasi Destarata pribadi, tapi juga Haryo Suman, adik daripada Gendari. Soalanya, bila kakak ipar jadi raja Ngastina, Haryo Suman otomatis bisa nempil kamukten. Paling apes menjadi Jubir Istana atau menteri, sukur-sukur jadi patih.
Tapi setelah penguasa Ngastina jatuh pada Pandu, beliau malah mengangkat patih Raden Gandamana. Padahal wayang emigran Pancala ini tak mengakar di Ngastina, tapi Prabu Pandu cocok banget. Kabarnya karena Gandamana sudah berpengalaman jadi patih Prabu Drupada di Pancalaradya.
“Jabatan patih Ngastina yang kuimpikan telah dikuasai Gandamana. Lalu nasibku bagaimana kakang embok?” Haryo Suman curhat ke Gendari, ibu negara gagal.
“Kamu harus bikin strategi baru dong, bangun koalisi ke mana saja. Poros tengah kangmasmu gagal, ya kamu bangun poros pinggir agak ke bawah dikit, gitu…,” ujar Gendari sambil menuntun Raden Destarata, mau mandi.
Meski pendatang baru realitanya Patih Gandamana disenangi massa rakyat yang hobi makan gandamana (ketela dibacem). Istilah ngetrennya; patih baru Ngastina bisa diterima pasar, sehingga kurs dolar turun pada level Rp12.000,- Segenap rakyat Ngastina bergembira, lantaran program kerja duet PD – PG (Pandu Dewanata – Patih Gandamana) berhasil memakmurkan kawula. Harga beras hanya Rp 5.000,- sekilo, bensin turun tiga kali, sedangkan BLT dibagikan saban bulan. Tapi bagi Haryo Suman yang WWS (Wayang Waton Sulaya) sekaligus MDS (Musuh Dalam Selimut) ada saja kiat untuk mendiskreditkan PD–PG. “Apaan, harga BBM kok diturun-naikkan macam main yoyo aja…!” gerutu Haryo Suman di depan pers dan teve.
Tiba-tiba stabilitas nasional Ngastina terganggu demi masuk laporan terlambat bahwa Prabu Tremboko ratu Pringgodani ngelar jajahan, masuk negara lain tanpa visa dan paspor. Berdasarkan video yang diputar di depan pasewakan agung, terlihat betapa buta-buta (raksasa) Pringgodani bertindak bar-bar pada kawula cilik di daerah terpencil Ngastina. Rumah mereka dihancurkan, yang melawan dipotong lehernya. Hanya dalam kurun waktu sebulan, 30 nyawa mati sia-sia. Ada pula keluarga yang disekap di kamar mandi sempit, sehingga 10 nyawa tewas sia-sia seperti perampojan di Pulo Mas Utara.
“Paman Gandamana, bagaimana ini? Ada pembantaian dan pelanggaran HAM berat begini kok kamu nggak tahu? Memangnya nggak main WA?” Prabu Pandu marah betul.
“Pecat, pecat! Gitu saja kok repot…..” potong Haryo Suman.
“Maaf, paduka. Hamba masih gaptek. Staf kepatihan pun kala itu sedang bikin acara untuk menghabiskan anggaran, menjelang tutup tahun.” Jawab patih Gandamana sambil melirik Haryo Suman. Dalam hatinya bilang, “Awas lu, ya!”
Prabu Pandu wayangnya memang pemaaf. Menghadapi patih Gandamana yang mudah emosian, harus banyak bersabar. Beliau hanya segera memerintahkan Patih Gandamana menangkap para wayang agresor tersebut. Kabarnya malah banyak raksasa yang bekerja tanpa izin. Paling parah, banyak raksasa tenaga kasar ikut-ikutan jadi TKW (Tenaga Kerja Wayang) di Pancalaradya, padahal tenaga kerja dalam negeri sendiri banyak tidak tertampung.
Prabu Pandhu Dewanata berinstruksi seperti itu, karena Patih Gandamana punya penyakit bludreg tapi jarang kontrol. Karena penyakit ludira inggil tersebut, keseharian Gandamana selalu menganthongi tablet Captopril lan Noperten. Pernah kejadian, gara-gara telat minum obat, Gandamana menghajar Bambang Kumbayana (Durna) hingga lenggek-lenggek (luka berat). Tangan kanan diplintir hingga patah, kemudian hidung dibalik. Selama 6 bulan Bambang Kumboyono opname di RC Dr. Suharso, Solo.
Patih Gandamana berangkat ke Pringgodani sebagai ketua Tim Pencari Fakta, disertai sejumlah anggota DPR dari Komisi III. Sepeninggal rombongan, Haryo Suman yang sangat membenci Gandamana segera menyewa LSM-LSM, untuk menyerang segala kebijakan Gandamana. Pengalaman kuliah di Lembaga Intrik & Pengembangan Isyu, diterapkan. Haryo Suman membuka blog dan ngetwet di medsos, menjelek-jelekkan sepak terjang Patih Gandamana. Mendengar kabar prajurit Gandamana menembaki rakyat sipil Pringgodani, Haryo Suman menggelar koprensi pers.
“Serangan ke Pringgodani bisa merusak citra PD – PG. Jika memang jadi wayang tegas dan berwibawa, Prabu Pandu harus copot Gandamana, jangan cuma bilang “ra papa” melulu…..” ujar Haryo Suman sambil bagi-bagi amplop, setiap wartawan disawer Rp 500.000,-
“Oom, kurang Oom, sejuta dong! Ini nanti bakal masuk breaking news….”, bujuk Tumenggung Mantrakendho dari Kurawa-TV tanpa malu-malu.
Adik Gendari ini memang sengaja main dua kaki. Jikalau Patih Gandamana pulang nama, peluang menjadi patih semakin besar. Maka selain minta dukungan tokoh-tokoh Ngastina, dia juga mengintervensi Prabu Pandu agar Gandamana didubeskan saja. Bahkan, secara diam-diam Haryo Suman masuk daerah konflik Pringgodani, dalam rangka mencelakakan Patih Gandamana. Jalan gang yang biasanya dilewati ki patih, dipasang luweng (lobang maut). Untuk menghindari kecurigaan, sengaja di atasnya dipasang triplek dan ditutup dengan tumpukan sampah dan daun kering.
“Gandamana mati, aku jadi patih Ngastina.” Khayal Haryo Suman.
“Tapi kalau skandal terbongkar, sampeyan remuk,” tukas punakawan Togog.
Jebakan Haryo Suman berjalan efektip. Patih Gandamana yang tak menyadari adanya jebakan maut, begitu melintasi jalan tersebut langsung tercebur, gubrakkkk. Dengan cepat Haryo Suman menimbun luweng dengan bebatuan dan tanah. Kemudian paling atas dicor semen dengan adukan 1:1, yakni: semen lima sak, krakal lan splite juga lima sak.
Sehari kemudian Ngastina geger, karena masuk laporan bahwa Patih Gandamana hilang misterius. Haryo Suman juga bikin berita hoax bahwa Gandamana ikut ISIS di Suriah. Tapi diam-diam dia menghadap Prabu Pandu. Bukan bersimpati dan prihatin, tapi menyarankan segara diangkat patih baru agar jangan terjadi kevacuman pemerintahan.
“Daripada repot, mending Haryo Suman saja yang diangkat. Dia kan tokoh multi dimensi, dan banyak gagasan yang briliyan,” saran Raden Destarata, atas arahan istrinya, Dewi Gendari.
Nggak enak dengan kakak sendiri, akhirnya Prabu Pandu mengangkat Haryo Suman menjadi patih anyar. Namun celaka tiga belas. Di kala para petinggi Ngastina pesta besar merayakan pengangkatan patih baru, mendadak Patih Gandamana yang diisyukan hilang, muncul kembali. Sadar bahwa posisinya telah tergeser gara-gara rekayasa politik Haryo Suman, patih baru tersebut langsung dihajar habis-habisan.
“Jika kamu cuma dipenjara karena pelanggaran ITE, nggak puas gue.” Kata Gandamana sambil terus nggepuki Patih Sengkuni.
“Stop, stop, Gandamana. Kamu jangan main hakim sendiri. Posisi itu tak mungkin saya reshufle kembali. Bahkan sebagai sanksi, kamu saya jadikan dubes di Afrika….,” perintah Prabu Pandu Dewanata marah betul.
Patih Haryo Suman alias Sengkuni (saka uni), langsung dikirim ke RS Mitra Keluarga Kaya, bagian ortopedi. Adapun mantan Patih Gandamana segera berangkat menuju pos barunya di Zimbabwe lewat bandara Astino Air Port. Kemarin dia berhasil keluar dari luweng maut berkat ajian Blabak Penganthol-anthol dan ajian Bandung – Bondowoso liwat jalur selatan. (Ki Guna Watoncarita)



