Menengok Penjagaan Alquran di Masjid Nabawi

Suasana pengajian Alquran di Madinah

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Al-Hijr. 9)”

Pria kecil itu bernama Dean Ali. Kulitnya putih bersih, hidungnya mancung, dan alisnya lebat. Mengenakan gamis warna putih, ia duduk melingkar bersama 8 orang lainnya di salah satu sudut Masjid Nabawi Madinah Al Munawaroh. Matanya terus tertuju pada kitab yang terbuka di atas rehal berwarna coklat. Mulutnya komat-kamit membaca salah satu halaman kitab.

Ali, demikian ia disapa, meski wajahnya terlihat seperti orang Arab, ternyata ia bukan warga Arab Saudi. Ketika diajak berbicara bahasa Arab, ia justru bertanya balik dengan bahasa Inggris “What do you mean?” Ali berkewarganegaraan Inggris dan menetap di London. Ia berada di Madinah karena diajak umroh oleh orang tuanya.

Ali mengaku, ia diminta ayahnya untuk belajar Alquran bersama para syaikh di Masjid Nabawi selama mereka berada di Madinah. “Ini kesempatan yang bagus, kata Ayah,” ujar Ali. Ia mengaku sudah hafal banyak surat Juz Amma.  Saat kami bertemu, Ali mengaku sudah tiga hari berada di Madina, dan selama itu pula ia selalu mengikuti pelajaran Alquran di Masjid Nabawi selepas Magrib.

Malam itu, Ali belajar kepada Syaikh Muhammad Azhar Khafid Ghulam. Di kelompok Ali, juga terdapat anak-anak, remaja, dan pria dewasa lain yang belajar Alquran. Mereka juga berasal dari latar belakang negara yang beragam, ada Paksitan, India, Bangladesh, juga Indonesia.

Masjid Nabawi memang memfasilitasi jamaahnya untuk belajar Alquran. Melalui program bertajuk “Ta’limul Qur’an Al Karim Liz Zuwar” (Pengajaran Alquran untuk Pengunjung), jamaah bisa memilih kelompok yang berada di setiap sudut masjid. Menurut pengakuan asisten Syaikh Muhammad, sedikitnya ada 50 kelompok pengajian (halaqoh) Alquran di dalam Masjid Nabawi. “Pengajian ini dilakukan setiap habis Magrib dan dilanjutkan selepas Isya. Setiap hari kecuali Sabtu malam,” jelasnya.

Setiap syaikh atau guru memiliki metode yang beragam dalam mengajarkan Alquran. Namun umumnya, setiap orang “diuji” terlebih dahulu dengan membaca surat atau ayat pilihan di hadapan Syaikh. Setelah itu Sang Syaikh akan memberikan materi bagaimana makharijul hurf yang tepat, bagaimana hukum tajwid di setiap bacaanya. “Masih banyak jamaah yang makharijul hurf-nya belum benar,” ujarnya.

Bagi pengunjung yang sudah punya hafalan juga bisa menyetorkan hafalannya kepada para syaikh. Jika ada bacaan yang kurang pas, sang Syaikh akan membenarkan. Mereka juga biasanya memberikan wejangan bagaimana cara belajar Alquran yang efektif, demikian juga untuk menghafalnya.

Kegiatan pengajian Alquran di Masjid Nabawi berlangsung lestari sepanjang keberadaan masjid yang dibangun Rasulullah 14 abad silam ini. Setiap halaqah  selalu terisi, minimal 5 orang. Tidak terlihat ada syaikh yang “menganggur” karena tidak ada murid yang mendatangi mereka. Inilah salah satu cara Allah menjaga kemurnian Alquran di muka bumi ini. Wallahu A’lam

 

 

 

 

 

 

Advertisement