
PURWOKERTO – Mujahidin Tohirin (66 tahun) dan isterinya Siti Rumdiyah (56) tinggal di Wangon Jawa Tengah, tepatnya di Desa Bantar, Rt 04/03 Kec. Jatilawang Kabupaten Purwokerto.
Tohirin begitu ia akrab dipanggil, adalah seorang yang taat beribadah dan sangat perhatian dengan anaknya . Ia tidak pernah meninggalkan sholat walaupun saat itu kondisinya dalam keadaan sakit.
Tohirin sakit karena diseruduk kambing, ketika membelikan kambing untuk qurban atas nama anaknya Idul Adha 1437 H / 2016,. Pangkal paha dan perutnya terbentur cukup keras karena tanduk kambing itu, ia merasakan sakit yang luar biasa.
Sejak itu, kondisi kesehatan Tohirin terus menurun dan badannya terus melemah. Tohirin selalu memikirkan keadaan anaknya yang ada di Jakarta. Karena saking rindunya pada anak, Tohirin menyusulnya ke Jakarta, meski kondisi kesehatan Tohirin belum pulih benar.
Di malam tahun baru, 2017. Anaknya Hanan Muntohar, yang berkerja di agen gas elpiji, Ciputat, menerima telepon dari bosnya. Salahnya Hanan, teleponnya tidak di silent, malah di loud speaker. Sehingga bapaknya yang dalam kondisi kurang sehat itu, mendengar apa yang dibicarakan Hanan dengan bosnya.
Di saat itu ternyata bosnya Hanan marah-marah, dan menuduh Hanan menggelapkan tabung gas 3 Kg sebanyak 10 tabung. Hanan harus mengganti tabung yang hilang dengan uang jutaan rupiah.
Mendengar hal itu, Tohirin shock, dia tidak yakin anaknya akan berbuat sekeji itu. “Itu Fitnah,” ungkapnya kepada KBK saat itu bercerita.
Hari di penghujung tahun 2016 itu memang hari apesnya Hanan, siangnya ia disuruh bosnya mengantarkan 50 tabung gas isi 3kg ke pada pelanggan karena yang biasa mengantarkan gas 3 Kg itu –temannya Hanan — orangnya tidak masuk.
Hanan biasanya mengantar gas tabung besar yaitu yang 50Kg. Karena perintah bos ia jalan saja menggantikan temannya, dan ia juga tidak menghitung tabung yang sudah ada di kendaraan. Ia tidak menyadari kalau jumlahnya kurang 10 tabung sampai bosnya pada malamnya menelepon.
Ternyata mendengar telepon bos anaknya itulah, Tohirin menjadi turut memikirkan anaknya, sehingga penyakitnya semakin parah. Ia drop. Tohirin buang air kecil terus menerus dan merasakan perutnya mengeras. Meski sudah diberi minyak kayu putih, namun tidak juga ada perubahan. Akhirnya malam tahun baru itu, Hanan membawa bapaknya ke RS.Siloam, rumah sakit yang terdekat dari rumah kontrakannya.
Di rumah sakit itu, semula ia di tolak dengan alasan tidak ada kamar. Setelah Hanan bersedia membayar biaya pengobatan sebesar 3,5 juta sebagai Deposit (DP) maka barulah Tohirin ‘ditangani’ dokter. Setelah diperiksa, menurut hasil laboratorium Tohirin didiagnosa terserang gagal ginjal dan harus cuci darah . Karena tidak ada alatnya di RS Siloam, maka Tohirin dirujuk ke RS.Cikini, Jakarta.
Sampai di sini, Hanan terhenyak. Ia tidak sanggup menerima cobaan itu. Di kerja dia terhutang atas apa yang tidak dia lakukan, sekarang harus menanggung pengobatan ayahnya tercinta untuk cuci darah. Karena Tohirin tidak memiliki jaminan kesehatan, maka pihak keluarga diwajibkan membayar Rp25 juta kalau ingin cuci darah.
Karena tidak ada dana yang bisa dibayarkan untuk membiayai penyakit itu, pihak keluarga memutuskan untuk membawa ayahnya pulang ke Purwokerto. Untuk ini, pihak keluarga meminta bantuan Dompet Dhuafa. Malam itu juga, tim layanan Respon Darurat Kesehatan (RDK) LKC Dompet Dhuafa meluncur ke Rs. Cikini.
Sekitar Pukul 21.00 WIB, Tohirin dibawa pakai ambulan LKC Dompet Dhuafa ke Purwokerto. Di tengah jalan keluar tol Palimanan menuju Purwokerto , tepatnya di bawah fly over ambulan terjebak banjir selutut orang dewasa. Karena membawa orang sakit, Mamat Ismanto dari Tim RDK LKC Dompet Dhuafa terus melajukan ambulancenya menerobos banjir tersebut.
Setelah perjalanan melelahkan, Pukul 8.00 pagi, akhirnya ambulan sampai di rumah Tohirin. Tim RDK kemudian memasang oksigen untuk Tohirin karena ia mengeluh sesak. Alhamdulillah, Tohirin sudah lega sudah sampai di rumah dan sudah pula pakai oksigen.
Siangnya, Mamat Ismanto, Tim RDK LKC Dompet Dhuafa, minta pamit untuk kembali ke Jakarta. Dan Mamat menyarankan agar Tohirin dibuatkan BPJS, agar bisa dirawat dan cuci darah gratis. Ketika Tim RDK meninggalkan Tohirin, ia sudah tidak sesak lagi dan tetangga dan jamaah masjid setempat banyak yang datang untuk mendoakan Tohirin. Mamat pun balik ke Jakarta dengan perasaan lega.
Memang Allah SWT sudah mengatur semuanya dan Allah jua Sang Pemilik Takdir. Baru saja Mamat Ismanto sampai di Jakarta dengan ambulannya sekitar Pukul 5 pagi esok harinya, Ia mendapat telepon dan pesan singkat dari Hanan anaknya Tohirin. Bahwa Tohirin sudah kembali kepangkuan Yang Maha Kuasa, seusai shalat Subuh, Pukul 05.00 WIB, (5/1/2017). Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun, semoga husnul khotimah.
Tohirin wafat dalam kondisi prihatin atas nasib anaknya Hanan. Memang kasih ayah sepanjang hayat. Selamat Jalan Mujahidin Tohirin.
*) dikisahkan Mamat Ismanto, Tim RDK LKC Dompet Dhuafa ke pada KBK.




