Cantrik Janaloka

Cantrik Janaloka merayu kedua gadis Pregiwa-Pregiwati untuk diperistri.

SESUNGGUHNYA Begawan Sidik Wacana dongkol juga punya mantu model Harjuna dari Madukara ini. Sangatlah ironis, sebagai tokoh penting Pandhawa yang banyak uang, anak bini di pretapan ditelantarkan. Boro-boro kirim wesel bulanan buat keluarga, untuk kirim gula kopi buat  mertua juga kagak pernah. Ini mantu cap apa? Istri hanya disamakan dengan pabrik saja. Setelah berproduksi dan dilempar ke pasaran, selesai!

Tapi harus maklum, dalam posisi satriya lananging jagad, Harjuna harus  seperti itu. Dimana-mana punya istri. Maka jangan heran, mana kala terlihat bocah bertanya tentang siapa ayahnya, bisa dipastikan dia adalah anak kesatria Madukara. Maklum, Harjuna memang lelaki mata keranjang abis. Setiap dinas ke luar kota, atau studi banding ke manca negara, selalu menyempatkan diri mencari “selimut hidup”. Bila dana cukup, Harjuna pesan lewat kamar hotel. Tapi bila kantong cekak, tanpa malu-malu masuk perkampungan, “nembak” para endang putri  begawan dan pandita. Tapi setelah “diservis” oleh kembangnya  pretapan, ksatriya panengah Pandhawa tersebut langsung kabur tak kembali lagi.

“Bulan depan kakanda ke sini lagi, ya.” Kata Harjuna selalu setiap mau pamitan.

“Benar ya. Jangan seperti Bang Toyib,” jawab istri baru Harjuna selalu.

Di pretapan Andongcinawi yang dikenal juga sebagai Gambir Sakethi, Harjuna begitu juga. Meninggalkan “bibit unggul” dua bernama Pregiwa dan Pregiwati, hasil kerjasama nirlaba dengan Dewi Sumendang, juga tak diurus. Semenjak jadi menantu begawan dari Gambir Sakethi ini, baru dua kali Harjuna main ke situ. Pertama, 17 taun lalu, kemudian lahirlah Pregiwa. Dua tahun berikutnya datang lagi, dan nyeprotlah Pregiwati. Gilanya, menengok anak-istri cuma lenggang kangkung saja,  tanpa bawa oleh-oleh apa lagi duit. Istilah orang  Solo: hanya setor bonggol tanpa benggol.

“Eyang begawan, katanya kami berdua anak Raden Harjuna dari Madukara, tapi bapak kok nggak pernah main ke sini ya?,” kata Pregiwa – Pregiwati sekali waktu.

“Sabar ya ndhuk, ayahmu kan baru sibuk studi banding ke luar negeri. Entar di musim reses DPR tentu ke sini,” bujuk eyang Begawan Sidik Wacana dengan sabar.

Sebagai perawan ABG, Pregiwa-Pregiwati bila ngambek susah dibujuk. Mereka tetap menuntut agar dipertemukan dengan sang ayah, Raden Harjuna. Padahal yang namanya eyang tak pernah tega pada cucu. Daripada Pregiwa-Pregiwati rewel melulu, diijinkan sajalah keduanya menyusul Harjuna. Setelah menjual ayam dan kelapa hasil kebon, uangnya dibuat sangu pergi ke Madukara. Cantrik tersayang, Janaloka, diperintahkan untuk mengawal.

“Mumpung dapat tiket KA tarif promosi, cucuku tercinta Pregiwa-Pregiwati tolong kamu antar ke ksatrian Madukara,” perintah Begawan Sidik Wacana kepada Cantrik Janaloka.

“Tapi transportnya dilebihi dong! Jangan dipas bandrol seperti biasanya…..” usul Cantrik Janaloka.

Dia hafal betul dengan tabiat  sang begawan, untuk urusan uang pelitnya minta ampun. Urusan apapun maunya gratis. Idenya banyak, tapi keluar duit mana mau! Jika tahu di Jakarta naik busway gratis untuk manula, pasti dia ngelayap ke Jakarta melulu.

Sesungguhnya ada dua kauntungan ketika Cantrik Janaloka diperintahkan ke  Madukara mengawal Pregiwa-Pregiwati. Di samping bisa berdekatan dengan dua gadis idaman hati, sekaligus menghindari kejaran polisi Kurawa. Soalnya, minggu-minggu ini Janaloka tercatat sebagai tokoh paling dicari, setelah terlibat penerbitan buku tentang ujaran kebencian. Cantrik Janaloka mau ditangkap karena menulis buku “Betara Guru Undercover” yang isinya tanpa didukung data sekunder maupun primer.

“Ini bagian dari kesadaran bela negara. Dia punya skandal dengan Dewi Anjani hingga lahir Anoman, kenapa tidak diusut?” kata Cantrik Janaloka yakin.

“Kesadaran bela negara, dhengkulmu amoh! Memangnya  jaman skandal Betara Guru-Anjani, kamu sudah lahir? Ngawur saja kamu.” Kecam Kartomarmo marah betul karena Cantrik Janaloka menyebut juga namanya dalam buku tersebut.

Sekarang “bisnis” jual buku online sebagai sampingan Cantrik Janaloka terpaksa ditutup, sedangkan dia sebagai penulis dan penerbit sekaligus dikejar-kejar polisi Kurawa. Maka sungguh sebuah keberuntungan, tugas mengawal Pregiwa-Pregiwati sekaligus bisa dijadikan alasan untuk menghindari pemeriksaan polisi. Padahal jika sampai ditahan, Cantrik Janaloka tak ada dana untuk membayar pengacara. Omset penjualan buku “Betara Guru Undercover” takkan nutup.

Cantrik Janaloka mengawal Pregiwa-Pregiwati ke Madukara dengan naik KA Senja Utama. Di situ dia sempat melihat Gatutkaca sebagai pejabat Ngamarta, sedang sidak angkutan KA. Meski dia nyamar, tapi dari sepatu kets yang khas, ketahuanlah siapa dia.

“Kok kamu tahu bahwa dia Gatutkaca? Memangnya kamu kenal?” tanya Pregiwa-Pregiwati.

“Jelas kenal, cuma dia nggak mau kenal saya. Tapi Gatutkaca memang hebat, dia pernah dijadikan senopati, tapi karena ber-KTP ganda Pringgodani – Amarta, lalu dibatalkan.” ujar Janaloka berbisik.

Gara-gara ada pejabat nyamar, KA Senja Utama ini ditahan keberangkatannya. Daftar manives ternyata tidak beres. Jumlah penumpang melebihi kapasitas. Untuk mengejar waktu, Cantrik Janaloka mengajak kedua momongannya dengan naik Taksi Online. Tarifnya sungguh murah meriah.

“Pukul 12.00 siang sampai Madukara ya?….” kata Janaloka minta jaminan.

“Beres, Oom. Madukara yang restoran di Kartosura itu ya?” tebak pengemudi.

“Bukan! Ini negeri bagian dari kerajaan Ngamarta.”

Mereka bertiga duduk di jok belakang, karena ini memang strategi Cantrik Janaloka. Duduk diapit dua gadis cantik, rasanya jadi gimana…..gitu! Ah, sudah lama sebetulnya Cantrik Janaloka jadi korban “cinta terpendam” atas kembang  pretapan Andong Cinawi. Cintanya setengah mati, tapi lantaran terkendala oleh nasib, dia tak berani mendeklarisikan cintanya.

Taksi Online terus melaju. Begitu ada kesempatan Cantrik Janaloka mencoba memanfatkannya. Tiba-tiba mengaku terkilir, Cantrik Janaloka minta dipijit. Semula keduanya ogah, tapi ketika ditakut-takuti mau ditinggal kabur, mereka terpaksa mau. Nyet, nyet, nyet, serrrr….serrrr; seluruh tubuh Cantrik Janaloka bak kena strom 500 volt gara-gara tersetuh tangan mulus Pregiwa-Pregiwati.

Saat Cantrik Janaloka merem  melek keasyikan dipijit, mendadak taksi disetop Patih Sengkuni bersama pasukan Ngastina. Mereka tengah melacak Pregiwa, untuk dinikahkan dengan Sarjokesuma. Demi sebuah amanat, Cantrik Janaloka mencoba mempertahankan kedua putri itu dengan alasan mereka telah jadi bininya lewat kawin siri.

“Yaaak, mana mungkin. Cantrik jelek aja mau poligami dan kawin siri. Mau niru Bupati Katingan lu ya?” Sindir Patih Sengkuni.

“Bukan! Saya bukan Bupati Katingan, tapi kalau ahli piting-pitingan (mendekap) memang iya. Lalu sampeyan mau apa,” tantang Cantrik Janaloka menggertak sambal, padahal cabe sedang mahal-mahalnya.

Ucapan Cantrik Janaloka membuat emosi Patih Sengkuni naik. Cantrik kurus kering kurang gizi itu langsung dipermak habis. Hanya dalam hitungan menit dia tewas dibuat bancakan, dimutilasi macam sapi kurban. Untung sebelum Kurawa berbuat lebih jauh, Gathutkaca muncul dari udara dan mengusir habis pasukan Kurawa.

Gatutkaca baru tahu bahwa kedua putri tersebut adalah famili sendiri. Seusai memakamkan Cantrik Janaloka di San Diego Hills Karawang, sapukawat Ngamarta ini segera mengantarkan Pregiwa – Pregiwati ke Madukara. Lantaran kadung kasmaran pada Pregiwa, sepanjang jalan  ksatria Pringgodani tersebut salting melulu. Bila cintanya tak bertepuk sebelah tangan, bulan depan anak nikah bedolan dengan tarif Rp 600.000,- (Ki Guna Watoncarita).

 

 

Advertisement