Perayaan Maulid Nabi di Yangoon Dibubarkan Paksa

Ilustrasi Biksu di Myanmar menggelar aksi menolak Rohingya / Al Jazeera

YANGON—Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Yangoon, Myanmar terpaksa dibubarkan setelah puluhan kelompok Buddha garis keras menggeruduk. Insiden terjadi pada Ahad (8/1) kemarin. Situasi ini membuat upaya rekonsiliasi antar etnis dan agama di sana semakin sulit.

Republika.co.id yang mengutip Channel News Asia melaporkan, seorang saksi mata yang enggan disebutkan namanya menjelaskan kronologisnya. Sebelumnya, belasan biksu menyerukan agar kelompok Muslim menghentikan kegiatan maulid Nabi SAW. Kemudian, mereka meringsak masuk ke tengah-tengah acara keagamaan Islam itu dan melakukan pembubaran paksa.

“Ini menciderai kebebasan beragama,” kata sekretaris majelis ulama Islam Yangon, Kyaw Nyein, Ahad (8/1).

“Para biksu mencoba untuk membubarkan acara ini tanpa menjelaskan apa salah kami. Dan kenapa aparat yang berwajib tidak bertindak?” lanjut Nyein. Diketahui, ada sejumlah aparat kepolisian di lokasi kejadian tetapi tidak melakukan tindakan apa pun.

Menurut wakil ketua panitia Maulid, Tin Maung Win, kelompok nasionalis Buddha itu berusaha melawan keputusan pemerintah, yang kini didukung tokoh sipil Aung San Suu Kyi. Win menilai, kelompok ekstremis Buddha tersebut merupakan simpatisan partai USDP yang didukung pihak militer.

Bagi mereka, kata Win, pemerintahan kini terlalu lunak terhadap kaum Muslim Myanmar. “Inilah yang  menyulut Islamofobia. Kami telah menyelenggarkan acara ini (maulid Nabi SAW) selama tujuh tahun berturut-turut tanpa pernah keributan apa pun. Tapi, hari ini, terjadi. Ada kepentingan politik di balik (aksi pembubaran) ini,” katanya.

Advertisement