MAKAN ketan pakai abon daging sapi, sungguh lezat. Tapi menghirup lem aibon? Bagi kalangan remaja salah pergaulan, nikmat juga! Beberapa tahun belakangan semakin banyak ABG (anak baru gede) salah pergaulan, yang mencoba menikmati “dunia lain”. Terakhir, beberapa hari lalu sejumlah anak muda di Purwodadi Kab. Subang diciduk polisi karena kedapatan “ngelem” bersama. Bagaimana nasib masa depan bangsa nanti, jika para kawula muda justru keasyikan menjadi pemuda harapan lem aibon?
Mendengar kata lem atau ngelem awal-awalnya orang akan membayangkan tukang tambal ban mobil maupun motor. Mereka menambal ban-ban yang bocor memang pakai lem sebagai perekat, bisa Aica-Aibon, bisa juga merk lain. Jadi jika anak muda ngelem, para orangtua membayangkan anak-anaknya sedang mengerjakan prakarya untuk sekolah. Baguslah itu, siapa tahu kelak menjadi pengrajin handal yang bisa menggerakkan ekonomi kreatif.
Tapi ternyata, kata ngelem hanya kata lain untuk pesta mabuk-mabukan dengan modal yang murah meriah. Beli narkotika mahal, cukuplah menghirup uap lem dicampur dengan obat batuk. Rasanya sama, bikin orang merasa di “dunia lain”. Padahal lem ban model beginian mudah didapat dan harganya sekaleng kecil paling-paling Rp 15.000,- Asyik kan, dengan modal cekak pun anak muda sudah bisa fly, terbang ke mana-mana.
Sebagaimana thinner cat, lem ban juga mengandung senyawa cairan kimia inhalen. Karena dicampur bensin, sepintas terasa “seger” juga di hidung. Tapi jika sengaja dihirup banyak-banyak, akan menyebabkan lupa daratan. Efek yang ditimbulkan setelah menghirup uap lem itu memang hampir mirip dengan jenis narkoba. Bisa menyebabkan halusinasi, sensasi melayang-layang serta rasa tenang sesaat, meski kadang efeknya bisa bertahan hingga 5 jam.
Selama tubuh masih dipengaruhi inhalen tersebut, pengkomsusinya akan menjadi kehilangan rasa lapar. Tak ada nafsu makan, karena rasanya masih kenyang terus. Nah, barangkali ini bisa dijadikan masukan untuk Bulog. Bisa menjadi solusi alternatif ketika harga-harga beras semakin mahal. Bulog tak perlu menyetok beras banyak-banyak, dan Kementrian Pertanian-Perdagangan tak perlu masukkan beras impor, karena untuk sementara rasa lapar rakyat bisa ditahan dengan inhalen. Paling-paling yang usul akan dicap kenthir (gila).
Ngelem kini sudah menjadi “budaya” kalangan remaja salah pergaulan, termasuk anak jalanan. Di mana-mana, di berbagai kota Indonesia banyak kelompok anak muda yang ngelem bersama teman-temannya. Ini mereka jadikan solusi alternatip ketika harga bubuk narkotika mahal. Tapi efeknya memang sama, seperti pecandu narkortika, praktisi ngelem akan menjadi kehilangan rasa malu, sehingga mencuri bukanlah aib.
Di era gombalisasi ini agaknya mabok sudah menjadi sebuah kebutuhan. Bila politisinya mabok jabatan, rakyatnya pada mabok minuman keras. Tak mampu beli bir bermerk, akhirnya beli miras oplosan. Padahal resikonya sangat tinggi, sudah banyak kawula muda mati sia-sia akibat miras oplosan itu. Maka paling kasihan murid-murid SMA, di lingkungan kena pengaruh miras oplosan, di sekolah kena kurikulum oplosan (gabungan kurikulum 2013 dan 2006).
Tak jauh beda dengan narkoba pada umumnya, efek ngelem akan menyerang susunan saraf di otak sehingga bisa menyebabkan kecanduan. Dalam jangka panjang bisa menyebabkan kerusakan otak sementara dalam jangka pendek risikonya adalah kematian mendadak. Tapi para praktisinya tak peduli dengan resiko itu. Yang penting dengan ngelem bisa masuk ke “dunia lain”, bisa berkhayal macam-macam, menjadi gubernur DKI atau berbini cantik.
Di tahun 1930-an Bung Karno pernah bilang, berikan aku 10 pemuda, akan aku goncang dunia. Tapi sekarang ini? Jangankan 10 pemuda, sejuta pemuda pun jika hobinya ngelem, dunia bukan goncang, tapi akan goyang-goyang karena pemuda tekag hilang kesadarannya. (Cantrik Metaram)





