Guru Harus Berkarakter

Foto: KBK

BOGOR (KBK)—Seorang guru tidak cukup hanya mengajar, menyampaikan mata pelajaran. Guru adalah seorang Insan Kamil (manusia yang sempurna) yang memiliki karakter, yang menjadi panutan dari tutur kata dan perbuatan. Demikianlah poin penting orasi yang disampaikan Ketua Dewan Pembina Dompet Dhuafa, Parni Hadi dalam Wisuda Sekolah Guru Indonesia (SGI) Dompet Dhuafa, di Bogor, Jumat (10/2/2017).

“Guru itu tidak sekedar mengejar gaji dan sertifikasi. Bagi saya, guru itu Insan Kamil jika dia mampu melaksanakan (semboyan) Ing Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani,” urai Parni.

Wartawan senior ini menegaskan, seorang guru harus memiliki karakter pemimpin (leader), pembaharu (reformer), pejuang (fighter), pelopor (pioneer), relawan (volunteer), dan pengambil risiko (risk taker). Namun, itu belum cukup. Seorang guru juga harus memiliki sifat penolong (helper), pendengar (listener) dan pembelajar (learner).

“Sebagai seorang guru, kita harus menjadi penolong untuk murid-murid kita. Di saat bersamaan kita juga harus menjadi pendengar yang baik. Seorang guru juga tidak boleh berhenti belajar,” ujarnya.

Seorang guru, kata Parni, juga harus bisa segalanya. Ia bisa menjadi artis, pemain teater, penari, penyanyi, penulis, pendongeng, penghibur (entertainer) dan juga pendakwah. Dengan bekal kemampuan itu, guru kapasitas yang mumpuni untuk mendidik anak-anak bangsa. Untuk menciptakan guru berkarakter, kata Parni, kesejahteraan mereka harus diperhatikan. Sejahtera dalam arti yang luas, disiknya, juga kantongnya. “Jadi, kesejahteraan guru harus diperhatikan, tidak boleh guru kurus, tidak boleh miskin,” tegas mantan Direktur RRI dan Antara ini.

Tak cukup sampai di situ, seorang guru juga layaknya orang tua, saudara, dan mitra bagi si murid. “Jadi, seorang guru itu harus bisa segalanya, dan memerankan semuanya,” tukasnya.

Hari ini, SGI Dompet Dhuafa meluluskan 19 guru angkatan ke-16. Mereka telah mengikuti pendidikan dan pelatihan, juga penempatan selama setahun di daerah-daerah terpencil di pelosok Nusantara. Sejak tahun 2009, SGI telah meluluskan alumni 1.148 guru. Mereka tersebar di 31 provinsi di Indonesia.

Di tempat yang sama, Ketua Yayasan Dompet Dhuafa Republika, Ismail A. Said berpesan, setiap lulusan SGI harus menjadi tokoh penggerak perubahan di daerahnya. Pasalnya, untuk membangun Indonesia, harus dimulai dari pembangunan di daerah. “Indonesia tidak hanya di Jakarta. Dompet Dhuafa berkomitmen untuk membangun dari daerah, dan anda adalah ujung tombaknya,” pungkas Ismail.

Advertisement