ANDAIKAN nabi Adam dan Siti Hawa tidak tergoda oleh bujukan Iblis, niscaya tidak akan diturunkan di bumi. Bersama keturunannya, Nabi Adam – Siti Hawa tinggal bahagia sejahtera di dalam surga. Manusia tidak akan masuk neraka, karena semua patuh dan taat pada perintah Allah Swt. Tapi gara-gara Iblis yang congkak, Adam – Hawa dan keturunannya harus menderita di muka bumi, surga baru bisa dicapai lewat perjuangan bukan keniscayaan.
Allah Swt memang murka pada Iblis, karena terlalu sombong dan berani melawan perintah-Nya. Hanya karena diciptakan dari api, bukan dari tanah sebagaimana manusia, dia merasa lebih berkelas. Maka ketika diminta sujud kepada Nabi Adam, Iblis menolak. Allah pun mengutuk Iblis untuk tinggal di neraka selamanya. Dasar Iblis, dia pun menawar, siap masuk neraka asalkan ditemani umat manusia. Allah tidak berkeberatan, sepanjang mereka adalah manusia-manusia yang terkena godaan Iblis itu.
Meski Iblis itu berani masuk neraka, tapi ternyata penakut juga, terbukti minta ditemani manusia. Dan sejak itu Iblis mencoba menggoda Adam dan Hawa. Sebagaimana dikisahkan dalam Qur’an, Iblis beserta konco-konconya akan terus menggoda Adam-Hawa dan semua anak keturunannya hingga hari kiamat nanti, sebagai teman di dalam panasnya api neraka.
Iblis pun menggoda Adam-Hawa, sebagai nomer percobaan. Di taman surgawi itu ada semacam buah-buahan yang lezat dan harum tiada duanya, namanya buah khuldi. Iblis merayunya, agar Adam – Hawa mau memakannya. Rasanya dijamin lezat sekali, seger sumyah. Kala itu Adam dan Hawa menolak, karena ingat akan pesan Allah Swt sebagaimana termaktub dalam Qur’an surat Albakarah ayat 35: Dan Kami berfirman: ”Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanan yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.”
Karena bujukannya tidak mempan, Iblis mencoba membujuk Hawa sendirian. Begitu kuatnya Iblis mempengaruhi, akhirnya Hawa pun tergoda dan minta suami untuk memetiknya dan dimakan. Namanya juga demi istri tercinta, akhirnya dicobalah memetik buah khuldi itu dan dimakan berdua. Allah Swt sangatlah murka: “Allah berfirman: “Turunlah kamu sekalian, sebagian dari kalian akan menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Dan kamu memiliki tempat tempat kediaman dan kesenangan (tempat mencari kehidupan) di muka bumi sampai waktu yang ditentukan.” (surat Al Araf ayat 24).
Sejak itu Nabi Adam dan istrinya, harus berjuang demi kehidupan di bumi. Semua harus diperjuangkan, bukan serta merta ada sebagaimana ketika di surga. Waktu di surga umur tak dibatasi, tapi setelah di bumi hanya umat terdahulu yang usianya relatif panjang-panjang, misalnya Nabi Adam 1.000 tahun, Nabi Idris 865 tahun, Nabi Nuh 950 tahun. Tapi nabi terakhir sebagaimana Muhammad, hanya diberi umur 63 tahun.
Tapi ada hikmahnya juga manusia abad sekarang dijatah umur pendek. Semakin banyak godaan di muka bumi, berumur panjang hanya akan menambah dosa-dosa yang harus dipertanggungjawabkan umat di hari kiamat kelak. Jika manusia sekarang diberi umur 500 tahun misalnya, sehari berbuat dosa sekali saja, berarti setidaknya 182.500 dosa yang harus dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.
Karena umur manusia sekarang makin pendek, Iblis semakin gencar mengejar target teman ke neraka. Bersama setan, thuyul, dhemit, mereka berbagi tugas untuk menggoda umat Nabi Muhammad. Padahal Iblis dan konco-konconya itu paling sabar memasang jebakan untuk menyesatkan orang. Tak kena di tahun baru, ya ditunggu nanti Lebaran Idul Fitri. Tak kena di Idul Fitri, tunggu sampai Idul Adha. Tak kena di Idul Adha, ya ditunggu sampai musim Pilkada.
Dan sekarang benar-benar terjadi, di musim Pilkada di DKI Jakarta ini sesama umat saling hujat, saling fitnah, baik melalui demo, mimbar maupun medsos. Maka Iblis dan setan pun panen teman ke neraka. (Cantrik Metaram).





