Jangan Berharap Guntur Di Langit

Ilustrasi: Diajak masuk RM Padang, ternyata belum tentu diajak makan.

JODOH, rejeki dan kematian itu urusan Allah Swt, kita tinggal menjalani saja. Soal rejeki demikian pula, jangan terlalu memaksakan diri untuk mengejarnya. Jika Allah mengalokasikan hanya segitu, dikejar sampai ke mana juga takkan didapat. Intinya: jangan terlalu berharap. Pepatah Jawa mengatakan: aja njagakake endhoge si blorok, atau dalam ungkapan Indonesia lebih dikenal: jangan terlalu mengharap guntur di langit.

Mencari rejeki di muka bumi memang sudah menjadi kewajiban setiap umat. Lewat surat Albakoroh ayat 172 Allah Swt berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah. “ Itu artinya bahwa mencari rejeki jangan membabi buta, halal-haram disikat terus, dengan prinsip: yang haram saja susah dicari, apa lagi yang halal.

Berburu rejeki terlalu bernafsu atau ngaya (memaksakan diri), menjadikan orang tidak bisa bersyukur atas rejeki yang diberikan Allah Swt. Sudah kerja mati-matian kok hasilnya hanya begini? Padahal Allah juga telah mengingatkan, yang bersyukur akan ditambahkan nikmat Allah. Sebaliknya yang kufur, akan mendapat siksa-Nya yang adzabun syadid (amat pedih).

Rejeki itu bisa datang tak terduga-duga, tapi juga jangan terlalu menduga-duga akan datangnya rejeki. Beberapa hari lalu benar-benar kejadian di Solo, sebuah peristiwa yang menandakan bahwa manusia modern sudah tercerabut dari akar budaya asalnya, yang bisa juga berarti “ora njawani” buat orang Solo – Yogya.

Alkisah ada orang Jakarta sedang reuni di Wonosobo. Untuk memanfaatkan waktu luang, dia ke Solo kepengin ketemu teman lama. Ditelponlah teman lama tersebut, jawabnya kemudian: “Kita ketemu di RM Padang depan kampus UNS, Kentingan, saja ya!” Waktu itu sudah menunjukkan pukul 11.00 siang. Itu artinya, ketemu di RM Padang pastilah: diajak makan siang bersama.

Setengah jam kemudian teman lama itu datang dan mengajak tamu Jakarta beserta dua rekannya yang lain masuk ke RM Padang tersebut. Mereka ngobrol ngalor ngidul bernostalgia, sambil minum teh. Tapi sampai lebih dari 30 menit, hidangan tak kunjung datang. Padahal kebiasaan di RM Padang, begitu tamu datang langsung disuguhkan berbagai menu dan kita tinggal pilih mana yang sesuai selera. Ketika ada tukang pisang, teman lama itu beli satu dan hanya untuk dirinya sendiri, tanpa menawari tamunya yang dari Jakarta.

Karena obrolan tak berujung itu benar-benar tak ada ujungnya, tamu Jakarta itu pamitan. Ternyata si teman lama mengizinkan saja, tanpa menahan dengan kata-kata “makan dulu Mas.” Walhasil, katanya dari RM Padang tapi perut tetap keroncongan. Usut punya usut, teman lama itu memang sudah biasa menerima tamu dengan gaya seperti itu.

Di peristiwa lain tahun 1980-an juga pernah kejadian hal serupa. Pelajar STM dari Purworejo mencoba ketemu kakaknya yang jadi guru di Cilacap. Meski sangu terbatas, dia memaksakan diri berangkat dengan asumsi: nanti di Cilacap akan diberi ongkos lebih untuk kembali. Ternyata, di Cilacap sang kakak pergi ke kota lain alias gagal ketemu. Dengan ongkos yang sangat minim itu dia kembali ke Purworejo.

Bagaimana caranya? Kepada kondektur bis jurusan Cilacap – Yogyakarta dia terus terang bahwa kehabisan ongkos, sehingga mohon numpang saja. Kondektur tak mengizinkan, dan sang pelajar STM itu diturunkan. Tapi tak apa, karena dia telah berhasil menempuh perjalanan minimal 10 Km secara gratis. Begitulah kiat itu dilakukan berulangkali, sehingga sampai Purworejo benar-benar tanpa bayar. Kesimpulannya adalah, jadi orang jangan terlalu berharap pada rejeki yang belum pasti. (Cantrik Metaram)

Advertisement