PENJAGA dua kota suci Mekah-Madinah (Khadim Alharamain), raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz al-Saud (82), kemarin siang telah tiba di Indonesia. Kunjungan selama 9 hari (1-9 Maret) di Jakarta dan Bali itu merupakan kunjungan ke-II raja Arab ke Indonesia. Di masa Orde Baru 47 tahun lalu, tepatnya tanggal 10 Juni 1970, raja Arab Faisal bin Abdulaziz al Saud, juga ke Indonesia, diterima Presiden Soeharto di Istana Negara.
Salman bin Abdulaziz Al Saud, merupakan raja Arab Saudi yang kaya raya, sehingga layak untuk anggeganjar saben dina (memberi hadiah tiap hari), kata orang Jawa. Kata majalah Forbes, harta kekayaan sang raja dewasa ini sekitar 17 miliar dollar AS (Rp 226,7 triliun). Harta tersebut dikumpulkan lewat bisnis perminyakan dan perusahaan financial yang dikelola keluarga kerajaan. Bila di Arab sana ada TA (Tax Amnesty), berapa tuh dana yang bisa ditarik dari baginda raja.
Sebagai raja dengan kekayaan tak terhingga, dalam kunjungannya ke Malaysia dan RI, baginda raja membawa rombongan berjumlah 1.500 orang, itu belum termasuk 25 pangeran dan 10 mentri. Begitu banyaknya peserta, raja Salma membawa sejumlah pesawat terdiri dari: satu Boeing 747SP, dua Boeing 777, dua Boeing 747-300/400, satu Boeing 757, dan satu Hercules. Hercules ini sebagai pengangkut mobil pribadi sang raja, dua Mercedes-Benz S600, serta escalator pribadi, untuk naik dan turun dari saka pesawat.
Betapapun orang sekampung diajak serta, raja Salman sama sekali tidak bikin repot tuan rumah. Hotel-hotel berbintang di Jakarta sebagaimana Ritz Carlton dan Rafles, telah habis dipesan dan dibayar. Itu merupakan kamar-kamar super mewah, dengan tarif antara Rp 73 juta hingga Rp 133 juta. Bisa nyenyakkah tidur di situ? Bagi kebanyakan orang Indonesia, justru gelisah sepanjang malam karena memikirkan, besok bayarnya pakai apa?
Negara Arab Saudi memang memiliki tempat tersendiri bagi orang Indonesia, khususnya umat Islam. Setiap tahun, sedikitnya 250.000 para mukminin dan mukminat menjalankan rukun Islam ke-5 ke Mekah dan Madinah. Dan setiap hari TKI dan TKW kita mondar-mandir Jakarta-Jedah untuk berburu reyal di negeri padang pasir tapi kaya raya itu.
Dan tentu saja tak bisa diingkari, sering pula kita mendengar berita-berita negatif tentang TKI/TKW kita, karena terlibat pelanggaran hukum di sana. Dari korban pelecehan seksual oleh keluarga majikan, sampai nasib tragis sang pahlawan devisa itu karena dihukum pancung. Hukum Islam di sana dilaksanakan secara konsekuen. Yang membunuh dibalas bunuh, yang mencuri dipotong tangan, dan yang berzina dihukum rajam.
Pada kunjungan raja Faisal 47 tahun lalu, gaungnya tak begitu terasa di masyarakat Indonesia. Maklum, jaman itu urusan kita dengan Arab hanyalah soal jemaah haji, yang kala itu masih menggunakan kapal. Tapi sekarang ini sudah sangat jauh beda. Sejak mantan Pangkokamtib Sudomo jadi Menaker, Indonesia mengirimkan banyak TKI-TKW ke Arab Saudi, dari menjadi pembantu rumahtangga sampai proyek-proyek pembangunan. Di situlah mulai muncul berbagai problematika.
Urusan haji pun, sejak 2004 mulai “bermasalah”. Ketika jemaah haji dikuota tanpa bisa ditawar, antrian “waiting list” jadi semakin panjang dan lama. Bila sebelum tahun 2004 begitu daftar langsung bisa berangkat, kini harus antri hingga puluhan tahun. Banyak pula kemudian, belum sampai naik haji sudah naik keranda duluan, di bawa ke TPU (Tempat Pemakaman Umum).
Maka kini, ketika raja Salman berkunjung ke Indonesia, umat Islam RI sangat berharap lewat Presiden Jokowi, pemerintah Arab Saudi tak perlu lagi memberikan kuota. Berapapun jemaah antum, ana terima. Kasihan kan, naik haji untuk menggapai surga kok “dipersulit”. Begitu juga soal jemaah haji korban krane tahun 2014, segera dibayarkan dengan cepat. Bayarlah kompensasi korban, sebelum air matanya kering. (Cantrik Metaram)





