KONSORSIUM perusahaan industri pesawat terbang Eropa, Airbus menawarkan pesawat angkut sedang A400M Atlas untuk menggantikan skadron pesawat C-130 TNI AU terdiri dari beberapa seri dan varian yang sebagian sudah berusia relatif cukup tua.
Sebuah pesawat A400M Atlas milik AU Inggeris atau Royal Air Force (RAF) dalam misi penerbangan promosi ulang alik Inggeris – Selandia Baru singgah di Halim Perdanakusuma, Jakarta (6/3) untuk diperkenalkan pada calon pembeli di Indonesia, khususnya TNI AU.
Manajer Pemasaran Airbus, Raul Tena kepada pers mengemukakan, pihaknya kerap menjalin kolaborasi dengan konsumen atau pengguna termasuk RAF untuk memasarkan pesawat produk konsorsium sejumlah perusahaan di Eropa itu.
Menurut pilot kepala misi penerbangan tersebut yang juga Komandan Skadron 70 RAF Simon Boyle, A400M Atlas memiliki keunggulan, baik dalam menjalankan misi taktis maupun sebagai pesawat angkut bahan bakar (tanker), transportasi kendaraan tempur, pasukan dan keperluan logistik.
Dengan 12 roda pendarat utama, A400M Atlas didisain untuk mampu mendarat di landasan pasir atau berbatu erta di landasan pendek. Sistem rem pesawat, berdasar pengalaman Boyle, sangat baik. Buktinya, dengan beban separuh penuh, pesawat bisa berhenti di tengah landasan, tidak sampai ujung landasan dengan panjang 5.000 kaki.
Situs Wikipedia menyebutkan, A400M Atlas buatan Airbus Defence and Space bermarkas di Toulouse, Perancis terbang perdana pada 2009 dan saat ini digunakan terutama negara-negara Uni Eropa. Malaysia satu-satunya negara di Asia yang sudah mengoprasikan tiga unit A400M dari empat pesanannya.
Sejauh ini 36 unit dari 174 unit yang dipesan oleh Belgia, Jerman, Inggeris, Perancis, Spanyol, Turki dan Luxemburg serta Malaysia sudah disampaikan pada penggunanya.
A400M Atlas yang dikendalikan secara digital penuh memiliki kecepatan terbang maksimal 825 Km per jam dan jarak jangkau 3.300Km, digerakkan oleh empat mesin turboprop dengan baling-baling berkekuatan 11.000 tenaga kuda yang disebut-sebut sebagai mesin terkuat di dunia di luar buatan Rusia.
Satu kompi pasukan
Dikategorikan sebagai pesawat angkut sedang, A400M Atlas dioperasikan oleh tiga atau empat awak dan mampu mengangkut lebih satu kompi (116 pasukan tempur bersenjata lengkap). Pesawat dibandrol dengan harga 152 juta Euro atau sekitar Rp2,1 triliun lebih (pada 2013).
Pesawat saingan sekelas A400M Atlas antara lain Antonov AN-70 buatan Rusia, C-130J Super Hercules dan Transall C-160 buatan AS, Kawasaki CX buatan Jepang dan ShanXi Y-9 produksi Tiongkok.
An-70 yang lebih kompetitif dari segi harga (sekitar Rp846 milyar sampai Rp987 milyar ) dan daya angkut lebih besar (300 pasukan bersenjata lengkap) mungkin menjadi pesaing utama A400M Atlas, begitu pula C-130J Super Hercules – jenis pesawat yang akrab (seri yang lama) bagi penerbang TNI-AU – dengan kemampuan angkut 92 pasukan dan harga di kisaran 67,3 juta dollar AS (sekitar Rp908,5 milyar).
TNI AU selama ini mengandalkan pesawat angkut C-130 Hercules berbagai versi (angkut, patrol maritim dan tanker) termasuk serial berusia lebih tua (Seri A , diterima pada 1958), sedangkan beberapa unit yang datang kemudian sudah ditingkatkan kemampuannya, namun belum memiliki seri terbaru yakni i C-130J Super Hercules.
Dari total 37 unit C-130 Hercules yang pernah dimiliki, tersisa belasan unit yang masih dioperasikan oleh Skadron 31 dan 32, sebagian digrounded , dan tercatat enam mengalami kecelakaan fatal (total loss), termasuk satu C-130HS hibah dari Australia yang jatuh di Wamena, Papua di penghujung 2016.
Pilihan di tangan TNI. Selain spesifikasi pesawat sesuai kebutuhan, keterbatasan kocek anggaran pemerintah, tentu harus menjadi pertimbangan pula, mendesak atau tidaknya pembelian.



