PARIS (KBK) – Ribuan warga Paris mengadakan demo untuk keadilan dan martabat, mengritisi kebrutalan Polisi terhadap warga minoritas kulit hitam.
Demo tersebut, Ahad (19/3/2017) disambut dengan gas air mata oleh polisi yang membuat demonstran kocar-kacir.
Para pengunjuk rasa meneriakkan “tidak ada keadilan, tidak ada perdamaian” dan “keadilan polisi di mana-mana tidak memandang tempat.”
Pengunjuk rasa mengritisi Polisi karena menggunakan kekuatan berlebihan terutama ketika menghadapi kelompok minoritas hitam.
Protes itu dipicu oleh dugaan kekerasan yang dilakukan Polisi kepada seorang pemuda kulit hitam, Februari 2017 lalu.
Seorang Pria 22 tahun, yang diidentifikasi sebagai Theo, diduga menjadi korban kekerasan Polisi menggunakan tongkat, ketika itu pria tersebut sedang berada di utara Paris, pinggiran Aulnay-sous-Bois. Akibat pukulan polisi, pria tersebut akhirnya dirawat di rumah sakit selama dua minggu.
Salah satu petugas telah didakwa melakukan kekerasan terhadap Theo, sementara tiga orang lainnya dituduh melakukan penyerangan.
Pengacara mengatakan,cedera yang ditimbulkan terlihat dilakukan dengan sengaja.
Akhirnya Theo menjadi simbol perlawanan kulit hitam di Paris terhadap Polisi.
Menurut Aljazeera, tahun 2005, Prancis pernah mengalami kerusuhan terburuk dalam 40 tahun setelah kematian dua remaja bouna Traore dan Zyed Benna yang tersengat listrik saat bersembunyi dari kejaran polisi.
Insiden itu memicu tiga minggu terjadinya kekerasan di mana 10.000 mobil dan 300 bangunan dibakar, yang memaksa Nicolas Sarkozy, selaku menteri dalam negeri menyatakan keadaan negara dalam kondisi darurat




