JAKARTA – Siapa yang mengira pamitnya Patmi, salah seorang pejuang petani kendeng yang mengikuti aksi semen kaki sebelum berangkat ke Jakarta ternyata pamit untuk selamanya.
Sri Utami, putri Bu Patmi, mengungkapkan jika sebelum pergi ibunya berpamitan dengan keluarga, dan dari keluarga juga sudah mengizinkan. Menurutnta, Patmi menyampaikan bahwa pamit untuk berjuang membela anak-cucu, membela Tanah Air sendiri.
Tak disangka Patmi meninggal mendadak akibat serangan jantung pada Selasa (21/3/2017) setelah sempat dilarikan ke rumah sakit. Keluarga mengaku sudah pasrah dan tabah menerima kepergian Patmi.
“Seumpama ada apa-apa, itu sudah menjadi kehendak Yang Membuat Hidup, kehendak Gusti Allah. Saya ya Insya Allah bisa menerima,” katanya, Rabu (22/3/2017), kepada merdeka.com.
Patmi meninggal di usia 48 tahun dan meninggalkan dua orang anak, Sri Utami, lahir 30 September 1987 (30 tahun) dan Muhamadun Da’iman, lahir 22 Desember 1995 (22 tahun). Jenazah Bu Patmi dimakamkan di Desa Larangan, Kecamatan Tambakromo, Kabupaten Pati.





