
JAKARTA (KBK) – Gus Sholahudin Wahid (Gu Solah), Pimp Pesantren Teby Ireng, Jombang, Jawa Timur mendukung macapatan sebagai sarana dakwah dengan pendekatan budaya.
Hal itu ditegaskannya dalam silaturahim budayawan, wartawan, cendekiawan, ruhaniawan dan pimpinan pesantren di kediaman Gus Solah , Kamis malam (24/3/2017). Turut hadir dalam pertemuan ini budayawan Bambang Wiwoho, Parni Hadi, dan Lily Chodijah Wahid.
Menurut Budayawan Parni Hadi, macapatan salah satu cara meneladani cara dakwah Sunan Kalijaga, anggota Wali Songo, penyebar Islam abad ke 15 di Pulau Jawa. Diiringi irama merdu-mendayu, mereka bersimpuh, terhanyut, asyik-masyuk melantunkan kidung “Sarira Ayu”, mantera penolak bala karya Sunan Kalijaga, dipandu seniwati dan seniman berpengalaman.
Salahsatu Macapatan yang berkesan diikuti sejumlah cendekiawan Muslim dan budayawan Jumat malam (10/3/2017), berlatih macapatan, melantunkan tembang bermuatan pesan keagamaan dengan iringan gamelan, untuk berdakwah dengan pendekatan budaya di Rumah Budaya Nusantara, Puspo Budoyo, Kampung Sawah, Ciputat, Tangerang Selatan.
Mereka yang tampak menikmati latihan itu termasuk Lily Wahid, adik Gus Dur (alm), Bambang Wiwoho, wartawan dan penulis beberapa buku keruhanian Islam, Luluk Sumiarso, pimpinan Puspo Budoyo, Rahmad Riyadi, penerbit buku dan guru, Puthut Budi Santoso, penata tari, dan Parni Hadi, wartawan dan ketua umum Paguyuban Pawitandirogo.
“Nung, nung, nang, nang, ndang, ndang, thung, gung”, suara bonang, kendang, kempul dan gong.
“Ndang gentak, tak gentak, thung, thung dhut.” Gendang gendut, tali kecapi, kenyang perut, senanglah hati.




