Culik Itu = Macul Diwalik

Inilah penculik sesungguhnya, karena culik itu kepanjangan: macul diwalik.

MINGGU-minggu ini merebak isyu penculikan anak. Gara-gara dihembuskan lewat medsos, menjadi merata hampir di seluruh Indonesia. Semua orangtua ketakutan, sampai-sampai Kapolri Jendral Tito Karnavian harus menegaskan: berita itu hoax. Sengaja isyu itu dihembuskan mendompleng moment Pilkada dalam rangka mendelegitimasi pemerintah. Padahal buat orang kampung tahun 1960-an, culik itu kebanyakan di sawah, karena maksudnya adalah: macul diwalik!

Jaman Orde Baru dulu, Menpen Harmoko sering mengingatkan, “Kita jangan mudah termakan isyu!” Isyu kala itu yang dihembuskan macam-macam, dari soal ketimpangan ekonomi, soal dikotomi sipil dan militer, dan bla bla bla…..yang lain. Tapi berkat petunjuk bapak presiden, atau bapak presiden memberi petunjuk; isyu itu tak pernah menjadi berkembang ke mana. Penyebabnya adalah, karena penebar isyu itu benar-benar diculik dan hilang tak pernah ada beritanya lagi.

Jaman Orde Baru isyu penculikan itu marak, ketika menyangkut para aktivis. Mereka banyak yang tak kembali sampai kini, karena menyuarakan kebenaran di masa itu, mengkritisi pemerintah. Betapa kejamnya pemerintah kala itu, berbuat kritis hanya lewat untaian kata-kata sastra (puisi), penyair Widji Tukul bisa hilang sampai kini tak kembali. Maka berbahagialah “penyair” Fadli Zon sekarang, meski getol bikin puisi politik tak pernah disentuh penguasa.

Berbarengan dengan musim Pilkada, kini kembali marak isyu penculikan. Bukan penculikan para aktivis, tapi anak-anak sekolah. Dari Aceh sampai Sulawesi, banyak orang tua cemas gara-gara ada kabar anak-anak sekolah usia TK hingga SD hilang dijemput orang tak dikenal. Begitu maraknya isyu tersebut, sampai orang gila pun “diintimidasi” karena dicurigai sebagai penculik anak.

Kini sekolah-sekolahpun mengoptimalisasi tenaga Satpam, untuk mewaspadai para penjemput anak, meski itu asli orangtuanya sendiri. Maklum, seorang Satpam tak mungkin hafal dengan setiap penjemput murid. Belum lagi bila penjemputnya berganti-ganti, kadang pembantunya, kadang keluarga dekatnya. Jadi, meskipun bukan Kapolri, para satpam senusantara kini ikut pusing dibuatnya gara-gara isyu penculikan.

Isyu penculikan anak memang tak hanya di Jakarta, tapi merata nyaris dari Sabang sampai Merauke berjajar culik-culik. Kapolri Jendral Tito Karnavian pun harus turun tangan. Hasilnya, itu ternyata hanya benar-benar isyu belaka, atau sekedar berita hoax yang banyak dihembuskan lewat medsos. Kata Kapolri, berita hoax itu untuk mendelegitimasi pemerintah, sehubungan dengan musim Pilkada. Maklum, gara-gara Pilkada memang banyak orang yang jadi mengada-ada.

Sebetulnya isyu penculikan anak itu bukan terjadi sekarang saja, tapi sudah ada sejak jaman Orde Lama tahun 1960-an. Tapi kaitannya bukan dengan Pilkada dan memang tak ada motif politiknya. Kala itu, isyu penculikan anak muncul mana kala ada proyek pembuatan jembatan. Gara-gara kabar burung tersebut, anak kecil pun takut main jauh-jauh ke jalan raya. Apa lagi kakak-kakak mereka juga selalu berpesan, “Le dolan aja adoh-adoh, ndak digondhol culik.!”

Untuk apa bocah musti diculik? Konon bocah usia 5-10 tahun itu akan dijadikan bekakak (tumbal), karena jin penunggu jembatan itu minta korban bocah. Katanya, lagi-lagi katanya, bocah itu kemudian akan dicat dengan aspal hingga tinggal kelihatan mata dan giginya saja, lalu diceburkan dalam cor-coran semen, dijadikan pondasi jembatan. Bagi anak kecil, tentu itu mengerikan sekali.

Melihat anak-anak menjadi begitu takut, orangtua pun banyak yang menasihati bahwa culik itu adanya di sawah. Pelakunya adalah Lik Marto atau Kang Pawiro, yakni para petani yang sedang mencangkul, mempersiapkan lahan untuk bertanam padi. Kata orangtua kala itu, culik itu adalah kepanjangan kata: macul diwalik, atau mencangkul yang tanahnya dibalik. (Cantrik Metaram).

Advertisement