SERUAN untuk merekat persatuan guna menjawab tantangan kemajukan yang semakin berat dihadapi bangsa Indonesia ke depan tidak bosan-bosannya disuarakan Presiden Joko Widodo di berbagai kesempatan.
“Tidak ada panggang kalau tidak ada api, “ ungkap pepatah lawas, menyikapi makna kontekstual pesan Presiden Jokowi di depan belasan ribu peserta Silaturahmi Nasional Jami’yah Batak Muslim (JBMI) di Pondok Pesantren Musthafawiyah, Kab. Mandailing Natal, Sumatera Utara, Sabtu (25/3).
Retaknya persatuan tercermin dari kegundahan sejumlah ulama, tokoh agama, cendekiawan dan pengamat berwawasan kebangsaan yang masih ingin menyaksikan tetap tegaknya NKRI termasuk Presiden Jokowi dalam merespons situasi akhir-akhir ini.
Jokowi prihatin menyaksikan fenomena di media sosial akhir-akhir ini dimana ujaran kebencian, umpatan dan caci-maki serta fitnah dengan cepat dan masif disebarkan. “Media sosial menjadi ladang subur persemaian radikalisme dan terorisme, “ katanya mengingatkan.
Untuk itu presiden meminta organisasi Islam berada di barisan terdepan, menjaga persatuan dan kesatuan bangsa serta menjadi sumber optimisme sebagai modal untuk membangun perekonomian yang mengedepankan keadilan sosial.
Indonesia yang dirangkai 17.000 pulau , dihuni 714 suku yang menggunakan lebih dari 1.100 bahasa daerah, menurut Jokowi, merupakan anugerah Tuhan yang harus dirawat menjadi kekuatan bangsa.
Di tempat terpisah, di Medan diselenggarakan Seminar Revitalisasi Menuju Seabad Peradaban Pancasila dalam rangkaian acara Musyawarah Nasional Ikatan Sarjana Katholik Indonesia (ISKA) 2017.
Jika menginginkan tetap tegaknya NKRI, forum ini mengingatkan, Pancasila sebagai pandangan hidup harus selalu membumi, dijadikan laku hidup sehari-hari dan diperkenalkan pada generasi penerus dalam narasi di medsos.
“Institusi pendidikan harus diselamatkan, sedangkan narasi kebinekaan harus terus diviralkan,” .
Ketahanan nasional dan ideologi, rendah
Rawannya ketahanan nasional dan ideologi bangsa Indonesia terungkap dalam kajian Lemhannas yang disampaikan oleh Pengajar Hubungan Internasional Lemhannas, Sebastianus Sumarsono. Tren nilai indeksnya melorot terus dari 2,3 pada 2014, 2,23 pada 2015, dan 2,06 pada 2016.
Kedua poin mencakup aspek religiusitas dan ketaqwaan, toleransi, kesamaan hak, kewajiban sosial, solidaritas, kesatuan wilayah, persatuan, kesetaraan serta keluarga yang dinilai dalam kondisi tidak tangguh.
KH Hasyim Musadi dikenang sebagai tokoh NU yang menyuarakan wajah Islam ahlusssunnah wal jamaah (komit pada ajaran nabi Muhamad SAW) termasuk sikap toleran yang dengan gigih terus ia perjuangkan sampai di akhir hayatnya(wafat 16/3)
Sedangkan Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur mewakili wajah Islam moderat yang toleran terhadap agama lain dan etnis minoritas. Masih ada ulama seperti KH Mustofa Bisri (Gus Mus) atau Buya Syafii Maarif yang juga lantang menentang paham populis sempit yang dapat memicu perpecahan.
Masih banyak lagi tokoh-tokoh Islam yang menyuarakan toleransi dan mencerminkan kesejukan wajah Islam, namun gaung suara mereka nyaris tak terdengar di tengah gegap gempitanya teriakan-teriakan ujaran kebencian dan intoleransi akhir-akhir ini.
Seruan-seruan untuk mengedepankan toleransi dan persatuan yang disampaikan Hasyim Muadi sebelum wafat bukan ilusi mengingat ancaman perpecahan bangsa akibat kapitalisasi agama demi tujuan politik, dan akibat krisis kepemimpinan serta keteladanan semakin nyata.
Puluhan khos atau ulama senior NU di Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang, (16/3) menyampaikan sejumlah seruan untuk merespons situasi politik akhir-akhir ini.
Butir seruan antara lain memuat ajakan agar para pemimpin menjaga kepercayaan masyarakat, arif , bijaksana dan bertanggungjawab, adil dan amanah menjalankan tugas serta mengedepankan kemaslahatan rakyat dan menjaga tetap tegaknya NKRI.
Kawal Pancasila dan NKRI
Ulama NU juga menyatakan konsisten mengawal Pancasila dan NKRI, memelihara sikap moderat dan bijak dalam menanggapi persoalan bangsa, memperjuangkan toleransi, demokrasi dan terwujudnya ahlakul karimah (berahlak mulia).
Mereka juga mencermati keresahan masyarakat akibat lemahnya penegakan hukum dan ketimpangan ekonomi, maraknya praktek korupsi, rendahnya pendidikan, meningkatnya kekerasan serta berlangsungnya dekadensi ahlak dan moral.
Sementara itu, tokoh lintas agama a.l. Azyumardi Azra, Jacob Tobing dan Matias Ho melakukan lawatan ke AS dan negara-negara Eropa baru-baru ini guna memperkenalkan Islam moderat, kerukunan beragama dan toleransi di Indonesia.
Entah bagaimana mereka menjelaskan harmonisnya umat beragama di Indonesia jika fakta akhir-akhir ini justeru mengarah munculnya gejala ke arah sebaliknya.
Kearifan, toleransi, kedewasaan dan semangat persatuan bangsa Indonesia diuji lagi menjelang putaran kedua Pilkada DKI Jakarta, 19 April nanti yang sarat dengan potensi muatan isu SARA yang mudah dimainkan oleh kelompok tertentu demi tujuan politis.
Segenap elemen bangsa harus bergandeng tangan, bahu-membahu melawan segala bentuk paham populis yang ingin memecah-belah NKRI.





