JAKARTA – Bencana longsor menjadi salah satu bencana yang mematikan di Indonesia dan menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), ada 40,9 juta jiwa penduduk Indonesia tinggal di wilayah rawan longsor.
Bahkan menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dari jumlah itu, sebanyak 488 ribu merupakan balita. Berdasarkan data BNPB, hampir seluruh wilayah Indonesia rawan longsor.
Daerah rawan longsor tersebar di sepanjang Bukit Barisan di Sumatra, Jawa bagian tengah dan selatan, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Ia memerinci, sebanyak 274 kabupaten/kota berada di daerah bahaya sedang hingga tinggi dari longsor di Indonesia.
Sebanyak 3,6 juta balita berada di lokasi longsor kategori bahaya sedang. Kemudian, sebanyak 39 ribu jiwa kelompok disabilitas berada dalam kategori bahaya tinggi. Sementara 284 ribu jiwa kelompok rentan berada dalam kategori bahaya sedang. Sebanyak 386 ribu jiwa kelompok lansia berada dalam kategori bahaya tinggi. Serta, 2,8 juta jiwa lansia berada dalam kategori bahaya sedang.
Sutopo menyebut, 17,2 persen dari 40,9 juta jiwa terdampak langsung bahaya longsor kategori sedang hingga tinggi.
Meskipun BNPB bersama pemangku kepentingan lainnya selalu memetakan prakiraan potensi gerakan tanah, namun masyarakat belum banyak menggunakan peta prediksi longsor sebagai dasar dalam beraktivitas. “Kemampuan menghindar dan memproteksi dirinya dari bahaya longsor, sangat minim,” ujarnya, di Graha BNPB, Jakarta, Minggu (2/4/2017), seperti dilansir Republika.
Tahun 2017, sudah terdapat 251 bencana longsor dari 882 total bencana yang terjadi sejak 1 Januari hingga 2 April 2017. Sebanyak 22 orang meninggal akibat bencana tersebut.
Secara keseluruhan, dari 882 bencana yang terjadi, sebanyak 103 tewas, 961.440 mengungsi, 11.559 unit rumah rusak, 406 unit fasilitas umum rusak. Lebih dari 95 persen penyebab bencana higrometeorologi, seperti, banjir, puting beliung, dan longsor.





