KOTA Magelang geger, karena seorang pelajar SMA Taruna Nusantara, Kresna Wahyu (15), ditemukan mati terbunuh di barak sekolahnya. Pelakunya ternyata AMR (16), teman sekolah sendiri. Motifnya sakit hati, karena aksi pencuriannya dilaporkan pada pimpinan sekolah. Masyarakat pun terhenyak, masih begitu muda sudah menjadi pendendam, bahkan berjiwa sumbu pendek. Mau jadi apa generasi muda seperti itu?
Apa itu sumbu pendek? Sumbu biasanya akrab dengan kaum ibu, khususnya sebelum tahun 2007, ketika di dapur mereka masih masak pakai kompor minyak. Tapi setelah masak dengan kompor gas, kompor minyak memang mulai dilupakan. Lebih-lebih dengan sumbunya, baik yang pendek maupun yang panjang.
Sumbu kompor yang pendek menyebabkan nyala api kecil, sehingga perlu segera diganti dengan sumbu yang panjang. Tapi di jaman Belanda dulu, ketika harga minyak tanah atau lenga patra masih mahal, para orangtua justru lebih senang memendekkan sumbu pada senthir (pelita) atau lampu miliknya. Ketika anak-anak belajar, selalu diingatkan jangan terlalu terang menyalakan lampu atau senthir. Jika anak tidak menggubris, maka sang ibu akan turun tangan, menarik sumbu senthir itu sehingga nyalanya tak lagi terang.
Jaman sekarang, khususnya di musim Pilkada di Jakarta, sumbu pendek maknanya sungguh beda 180 drajat. Umat “sumbu pendek” dimaksudkan terhadap sekelompok orang yang mudah tersinggung, mudah marah, karena perbedaan keyakinan/agamanya. Ketika keyakinannya merasa dilecehkan dan ditentang, mereka siap ngamuk bahkan jihad. Orang yang berseberangan dengannya dicap sebagai: kafir.
Tapi yang ber-“sumbu panjang”, tidaklah demikian. Ibarat bom, dia punya sumbu yang jauh lebih panjang, tidak cepat meledak. Segala informasi yang masuk disaring, dicermati, kalau perlu pakai tabayun. Dia mengambil sikap tidak tergesa-gesa, karena oang yang tergesa-gesa alias waton nyregudug, itu –sebagaimana hadits Nabi– temannya setan. Orang yang memutuskan segala sesuatu dengan banyak pertimbangan, adalah orang bijaksana karena akan berefek pada ketenangan dan ketentraman umat.
Bertolak dari kasus di SMA Taruna Nusantara Magelang, makhluk “sumbu pendek” ternyata sudah merambah ke generasi muda juga. Ngeri sekali rasanya, hanya karena malu ketahuan mencuri, tega melenyapkan jiwa teman sendiri. Nyawa benar-benar tak ada harganya, padahal di minimarket maupun departemen store, tak pernah ada dijual nyawa baik party besar maupun kecil.
Bandingkan dengan kisah mahasiswa Prabowo – SBY di Akabri Magelang tahun 1970-an. Sebagaimana dikisahkan oleh pengamat politik Hermawan Sulistyo, keduanya pernah berantem gara-gara rahasia bolos Prabowo dibocorkan SBY kepada Gubernur Akabri Sarwo Edhie Wibowo. Prabowo pun menempeleng SBY. Selesai sampai di situ saja. SBY tak dendam pada Prabowo, dan Prabowo tak ada niat melenyapkan nyawa teman alumninya tersebut.
Kok generasi sekarang lain sekali, ada yang cenderung sangar dan sadis. Seperti AMR itu misalnya, begitu murah dia menghargai sebuah nyawa. Apa dia tidak berfikir bahwa tindakan brutalnya itu justru akan membunuh kariernya sendiri? Sebab cepat atau lambat aksi kejahatannya akan terbongkar. Benar, kan? Hanya dalam hitungan jam sudah tertangkap. Tak hanya dipecat dari SMA Taruna Nusantara, dia juga terancam hukuman berat karena kasus pembunuhan yang direncanakan itu.
Jangan-jangan anak model demikian memang kurang gaul atau kurang piknik jika pinjam istilah sekarang. Bisa pendidikan dalam keluarganya yang salah, bisa pula akibat pengaruh lingkungan di era gombalisasi ini. Maklum, anak muda generasi sekarang banyak yang lebih asyik dengan dirinya sendiri. Jika sudah pegang HP smartphone dan main WA-nan, lupa deh sama lingkungan kanan kirinya. (Cantrik Metaram)





