JAKARTA – Fisik Fendi tak lagi muda, namun pundaknya yang mulai ringkih masih kuat menopang dua lonjor bambu berbentuk tabung. Ketika matahari mulai meninggi dua tabung bambu itu Fendi letakan sejenak seraya dirinya istirahat.
Sambil mengelap keringat yang membasahi kening, kakek berusia 72 tahun itu berharap ada satu dua orang yang datang membeli air tebunya. Perjuangan hidup Fendi melawan kerasnya kehidupan ibu kota terekam oleh netizen bernama @muhtari.
“Saya hendak pulang kerumah dari arah Roxy menuju Cengkareng. kebetulan di sekitar Citraland macet, saya akhirnya memilih jalan lewat gang. Lalu disekitar daerah Medika saya bertemu dengan bapak seorang penjual es tebu, namanya bapak Fendi,” Tulis @Muhtari saat awal perjumpaannya dengan Fendi di akun Instagramnya.
Dalam postingannya @muhtari menuturkan di Jakarta Fendi tinggal bersama sekumpulan pemuda di bilangan Citraland Jakarta Barat.Awalnya Fendi tak kenal dengan para pemuda tersebut, namun kebaikan hati para pemuda itu membuat Fendi dipersilahkan untuk tinggal kendati yang hunian yang ia tinggali jauh dari kesempurnaan.
Fendi memiliki 3 orang anak. Anak pertamanya bekerja di Papua namun hingga detik ini Fendi tidak mengetahui pekerjaan apa yang dilakoni sang buah hati.Jika ada rezeki Fendi terkadang dikirim uang oleh sang anak Rp 200 – 400 ribu namun tidak rutin.
Sedangkan istri Fendi dan dua anaknya menetap di kampung halamannya di Salem, Bumi Ayu, Brebes, Jawa Tengah.
Setiap hari uang yang berhasil dibawa pulang Fendi tak menentu kadang banyak namun tak jarang hanya Rp 80 ribu dan itu pun mesti dipotong Rp 30 ribu untuk disetor kepada siempunya es tebu.
“Beliau biasa menjual es tebu dari jam 9 pagi sampe 4 sore disekitar daerah Citraland sampai ke Indosiar. Tolong dibeli ya es tebunya, cuma Rp 3 ribu per-gelas,” tutup @muhtari.





