SEORANG Kartini pastilah wanita, dan Kartono adalah lelaki. Pada Hari Kartini 21 April 2017 ini, kembali kita merenung: begitu banyak sekarang Kartini yang berperilaku Kartono, baik itu dalam pengertian positip maupun negative. Bicara Kartini adalah bicara perjuangan emansipasi, sedangkan bicara Kartono adalah bicara keberanian lelaki yang ditiru wanita untuk……korupsi.
Perempuan selalu digambarkan kaum penakut, sedangkan lelaki sebagai makhluk pemberani. Padahal tidak selalu demikian. Banyak perempuan yang pemberani seperti lelaki, tapi sebaliknya tak sedikit lelaki yang penakut seperti wanita. Ketika berantem dengan bini di rumah sampai ampun-ampun sambil mojok-mojok di tembok. Maka jika Asmuni Srimulat masih hidup pasti akan komentar, “Ini suami cap apa?”
Suami demikian biasanya lelaki yang tak punya kedaulatan di rumah sendiri. Dia penakut menghadapi tantangan hidup, sehingga merasa lebih nikmat menjadi penganggur. Di rumah sekedar jadi pejantan, sedangkan istri yang banting tulang mencari nafkah, sementara malam hari diajak “banting-bantingan”. Nah suami model begini tak punya kewibawaan di rumah. Jika istri marah dia mengambil sikap: lebih baik diam. Jika kebetulan istri galakan seperti asu manak (anjing beranak), pasti akan terpojok di tembok ketika dimarahi bini.
Wanita karier adalah wanita-wanita yang berani, setidaknya berani melawan stigma bahwa perempuan itu hanya untuk mamah (makan) dan mlumah (telentang). Ini semua bisa terjadi berkat perjuangan emansipasi ibu kita Kartini harum namanya. Tanpa perjuangan beliau, niscaya tetap saja kaum wanita hanya dijadikan sekedar kanca wingking (baca: ibu rumahtangga).
Bila dulu perempuan tak boleh sekolah, kalaupun sekolah hanya sekedar sekolah Angka Loro (Sekolah Rakyat dengan bahasa pengantar berbahasa Jawa). Sekarang wanita bisa sekolah hingga perguruan tinggi. Mereka pun menduduki posisi penting di banyak lembaga negara, dari yang anggota DPR, KPK, DPD. Bupati, gubernur, pilot, dokter, jendral polisi; juga ombyokan.
Tapi ketika emansipasi itu kebablasan, Kartini masa kini sudah tak malu-malu lagi senthar-senthor merokok di depan publik. Maka sungguh kasihan pacar atau suami-suami mereka, ketika dicium baunya malah beraroma tembakau. Biarpun bungkus rokok yang diisapnya selalu mengingatkan “menyebabkan gangguan kehamilan dan janin”, kaum Kartini berlagak Kartono itu tetap tidak peduli.
Paling lucu adalah, semakin banyak Kartini masa kini yang berambut cepak macam Kartono. Praktis katanya, tak perlu ke salon dan kramas tiap hari juga tidak repot. Lihat saja tuh di salah satu TV swasta, ada presenter wanita yang kemasan rambutnya benar-benar seperti lelaki. Tapi jika berkebaya, bisa-bisanya dia berkonde. Bagaimana dia menyambung rambutnya, apa diikat pakai rafia satu persatu?
Tapi tak apalah, kehadiran perempuan perokok dan berpotong rambut macam lelaki, seberapa pun banyaknya takkan mengancam negara. Mereka telah mewujudkan emansipasi itu dalam keseharian, bukan hanya berkebaya dan lomba masak di kala tanggal 21 April.
Yang membahayakan adalah, kaum Kartini yang pemberani sampai menjadi praktisi korupsi. Misalnya anggota DPR Angelina Sondakh, Damayanti Wisnu Putranti, Dewi Yasin Limpo; Gubernur Banten Ratu Atut Khosiah, Bupati Klaten Sri Hartini, Walikota Cimahi Atty Suharti. Bahkan yang terakhir terungkap, anggota DPR Mustakaweni (alm) terseret juga dalam kasus e-KTP. Namanya pun mengingatkan pada wayang Mustakaweni yang maling Jamus Kalimasada.
Ibu RA Kartini di alam sana, bila tahu para wanita yang ditinggalkannya beremansipasi sedemikian jauhnya, pasti akan menangis. Kenapa persamaan gender itu sampai kebablasan pada kejahatan terhadap negara. Kaum Kartini silakan beremansipasi, tapi jangan pula ikut pula jadi praktisi korupsi. (Cantrik Mataram)





