Semenanjung Korea: Perang …Tidak, ….Perang?

Tentara China (PLA) berada di belakang Korut dalam Perang Korea (Juni 1950 - Juli 1953)

MERAMALKAN kemungkinan pecahnya perang di Semenanjung Korea antara Korea Selatan didukung Amerika Serikat dan Korea Utara, bagaikan menghitung suara tokek. “Perang…..tidak, perang…. Tidak”, susah dipastikan.

Yang jelas, kedua belah pihak yang berseteru belum ada yang mau mengalah, tetap saling melontarkan gertak dan ancaman serta unjuk dan asah kekuatan masing-masing.

Walau gagal menguji coba rudal balistik berjarak menengah KN-17, Senin lalu (1/5), Korut bertekad melanjutkan program senjata nuklir sebagai bagian pembangunan kekuatan militernya, sekaligus menghadapi ancaman agresi AS.

Penguatan militer Korut, menurut Jubir Kemenlu yang dikutip Kantor Berita KCNA, akan dilakukan berkala, tanpa henti, setiap saat dan di mana pun sesuai perintah pemimpin tertinggi Kim Jong Un.

Korut juga menuding AS sengaja memancing pecahnya perang nuklir karena menyertakan pesawat-pesawat pengebom  B-1B Lancer dalam latihan bersama dengan Korsel dan Laut Jepang.

Pesawat pembom supersonik bermesin empat buatan Rockwell (sekarang bagian Boeing) itu memang didisain untuk membawa bom nuklir, menggantikan pesawat B-52 Stratofoster yang masih digerakkan dengan baling-baling.

Jepang yang dibatasi konstitusinya pasca Perang Dunia II untuk menggelar kekuatan militer di luar wilayahnya, pertama kalinya menyertakan kapal perang terbesarnya yakni kapal induk helikopter Izuno dalam latihan gabungan bersama AS dan Korsel di Semenanjung Korea.

AS juga sudah mengoperasikan sistem rudal anti rudal Terminal High Altitude Area Defence (THAAD) bernilai satu milyar Dollar AS guna mendampingi sistem anti rudal Patriot yang sudah lebih dulu digelar di sejumlah wilayah di Korsel.

Sistem rudal THAAD bekerja dengan menyongsong kedatangan rudal lawan di ufuk tinggi  tanpa hulu ledak, hanya dengan menabraknya, sedangkan Patriot sudah terbukti keandalannnya (combat proven) saat digunakan Israel menjatuhkan rudal-rudal Scud ex-Rusia yang diluncurkan pasukan Saddam Hussein pada  Perang Teluk I (awal 1990).

Dua kapal induk AS, USS Carl Vinson dan USS Ronald Reagan, masing-masing dengan 60 pesawat tempur, dikawal sejumlah kapal perang dan kapal selam  kabarnya sudah merapat ke Samudera Pasifik Barat mengantisipasi kemungkinan pecahnya konflik.

Korut, unggul jumlah personil

Korut yang diperkirakan memiliki belasan hingga 30 bom nuklir didukung 1,2 juta tentara belum termasuk tujuh juta cadangan, unggul dalam jumlah personil, sebaliknya 28.500 angggota pasukan AS dan sekitar 400.000 tentara Korsel mengandalkan teknologi militernya.

Pengamat militer memperkirakan, jika Korut tetap bergeming melanjutkan uji rudal dan senjata nuklirnya, kemungkinan AS akan melancarkan serangan tangkal (preemptive strike) secara terbatas ke pusat komando, jantung militer dan pusat-pusat peluncuran rudal Korut.

Presiden AS Donald Trump mungkin akan memerintahkan serangan terhadap  Korut, karena reaksi dunia tidak begitu keras saat negara Paman Sam itu menyerang pangkalan udara rezim Bashir Al-Assad di Shayrat, Suriah (6/4) dan mengebom markas besar NIIS di Distrik  Archin, Provinsi Nangarhar, Afganistan (13/4).

Pada serangan pertama, AS meluncurkan 59 rudal jelajah Tomahawak dari kapal perangnya yang lego di Laut Mediteranean untuk menghancurkan sejumlah pesawat MiG-23 dan Sukhoi SU-24 AU Suriah di pangkalan udara Shayrat (6/4) yang sebelumnya digunakan untuk menjatuhkan bom kimia hingga menewaskan 86 warga sipil di Desa  Khan Seikhoun, Idlib.

Aksi “cowboy”  Trump berikutnya dengan menjatuhkan bom jumbo atau biang segala bom (mother of all bombs –MOA ) GBU-43B ke kompleks pangkalan dan markas utama pasukan NIIS di Distrik Archin, Provinsi Nangarhar, Afganistan.

Ajakan damai juga disampaikan Trump yang dengan kata-kata bersayap mengatakan, ia “merasa tersanjung” jika bisa bertemu dengan Presiden Korut Kim Jong Un, namun Jubir Gedung Putih Sean Spicer  menyebutkan hal itu tidak akan terwujud dalam waktu dekat ini, karena menurut dia, presiden Korut itu harus menunjukkan niat baiknya dulu.

Korut bisa saja melakukan inisiatif penyerangan seperti yang dilakukan pada Perang Korea sebelumnya (Juni 1950 – Juli 1953) dengan mengandalkan keunggulan gelombang manusia, artileri dan tank-tank, kemungkinan juga dengan rudal-rudal berhulu ledak nuklirnya.

Sebagai hasil kecanggihan teknologi untuk memproduksi  senjata pemusnah massal, jika pecah perang, mungkin berlangsung singkat, namun demikian, korban manusia tentu tetap saja tidak terelakkan. (Reuters.AP/AFP/NS)

 

 

 

 

Advertisement