FILIPINA – Pasukan Filipina telah meluncurkan serangan udara terhadap pejuang ISISÂ yang bersembunyi di kota selatan yang menyerang pada awal pekan ini.
Pengepungan di Marawi telah membuat ribuan orang melarikan diri dan mendorong Presiden Rodrigo Duterte untuk mengumumkan darurat militer di wilayah Mindanao.
Mayoritas dari 200.000 penduduk telah melarikan diri dari Marawi, sekitar 800km selatan ibukota Manila, namun juru bicara militer Letnan Kolonel Jo-ar Herrera mengatakan mereka tetap diingatkan untuk keluar dari daerah di mana ada pemboman dan pertempuran.
“Kami sudah mengidentifikasi target yang harus kami bersihkan,” katanya. “Kita perlu menetralisir sisa-sisa kelompok teroris lokal.” ungkapnya, dilansir Al Jazeera, Jumat (26/5/2017).
Namun militer Filipina juga mengalami beberapa kekalahan, dimana media lokal melaporkan bahwa antara enam sampai delapan tentara tewas pada hari Kamis kemarin. Sedikitnya sembilan warga sipil juga dilaporkan tewas pada hari Rabu.
Puncak kekerasan terjadi pada hari Selasa setelah tentara menggerebek tempat persembunyian Isnilon Hapilon, seorang komandan kelompok Abu Sayyaf, yang telah berjanji setia kepada ISIS.
Abu Sayyaf meminta bala bantuan dari kelompok sekutu, Maute, dan puluhan pejuang berhasil memasuki Marawi dan menyapu jalan-jalannya.
Para pejuang tersebut dilaporkan membakar sebuah gereja Katolik, penjara kota, dan dua sekolah, serta menduduki jalan-jalan utama dan dua jembatan menuju Marawi.
Para pemimpin agama menuduh para pejuang membawa seorang imam Katolik dan penyandera penyandera dan menggunakannya sebagai tameng manusia. Pada hari Rabu militer mengatakan bahwa mereka telah membunuh setidaknya 13 pejuang.





