Di penghujung bulan Mei 2017 kecerian tampak menghiasi wajah Maas (11) ketika ia bersama rekannya Hudayfa (10) ditantang untuk adu cepat bermain gerobak sodor. Setelah terbentuk 6 tim yang masing-masing berjumlah 2 orang, 12 belas bocah itu lantas melaju cepat di atas rumput hijau arena outbond Zona Madina Dompet Dhuafa, Parung, Bogor, Jawa Barat.
Maas merupakan bocah pengungsi asal Somalia, sedangkan Hudayfa berasal dari Yaman. Keduanya merupakan murid dari School For Refugee Dompet Dhuafa. Kegiatan outbond tersebut merupakan bagian dari rangakaian program Biblioterapi, yakni sebuah metode penyembuhan trauma atau depresi tertentu dengan menanamkan nilai-nilai positif melalui buku bacaan.
Dwi Tanti Kurnianingtyas dari Divisi Pendidikan Dompet Dhuafa menuturkan, program Biblioterapi sejatinya masuk ke dalam pendidikan informal yang menekankan pembelajaran baca, tulis, hitung dan berbicara dalam Bahasa Indonesia serta kompetensi sosial lainnya. Program ini merupakan program sinergi dengan UNHCR.
“Program Biblioterapi setidaknya sudah dilaksanakan School For Refugee dengan menggandeng Pusat Sumber Belajar Dompet Dhuafa yang dimulai dari awal tahun 2017,” ujar Tanti.
Dalam kegiatan yang digelar dari pukul 9 hingga 12 siang tersebut ke-12 siswa tak hanya mempraktikkan permainan tradisional Indonesia, tetapi juga diajak untuk nonton film di ruang audio visual Pusat Sumber Belajar Dompet Dhuafa dan bermain games biblioterapi.
“Khusus outbond kemarin sebagai variasi acara biblioterapi yang betujuan untuk me-review buku-buku apa saja yang sudah dibacaka oleh terapis ke murid School For Refugee dalam 4 bulan terakhir,” tambah Tanti
Tanti berharap dengan digelarnya acara tersebut para murid dapat mengingat kembali apa yang sudah diberikan ketika sesi pertemuan biblioterapi sebelumnya. Dengan demikian, murid mampu mengambil nilai-nilai positif dan mengaplikasikannya ke masyarakat dan keluarga.





