“Derita” Warga Palestina di Bulan Ramadhan

Mohammad Al Bazz, warga Palestina yang mendapat izin beribadah di Masjid Al Aqsa / Al Jazeera

Ketika dua bus berhenti di dekat Bab al-Asbat di Yerusalem, Jumat lalu, para penumpang yang notabene berusia senja segera turun. Mereka pun tergesa-gesa menuju dan langsung menuju Kota Tua di Yerusalem.

Waktu menujukkan pukul 10.00, sekitar dua jam sebelum sholat Jum’at dimulai. Bagi warga Gaza, ini adalah waktu yang sangat berharga dan langka. Mereka tidak bisa setiap hari melintasi perbatasan dan berziarah ke masjid Al Aqsa. Mereka pun tidak ingin menyia-nyiakan sedetikpun ketika sudah berada di tempat suci itu.

“Kami semua ingin bus sampai ke Yerusalem secepat mungkin,” kata Mohammed al-Bazz, 70. “Kami ingin menghabiskan banyak waktu di Yerusalem dan Al-Aqsa sebanyak mungkin.”

Mohammed Al Bazz dan istrinya adalah dua dari 100 warga Gaza yang mendapat izin dari Israel untuk mengunjungi Yerusalem untuk sholat Jum’at. Mereka memulai perjalanan pagi-pagi sekali, meninggalkan rumah di Kota Gaza sekitar jam 5 pagi dan melintasi persimpangan Erez yang dikuasai Israel. Perlintasan ini kerap disebut Beit Hanoun oleh orang-orang Palestina. Ketika mereka tiba, mereka disambut oleh seorang perwakilan dari Kementerian Urusan Sipil Palestina dan sesama peziarah.

Setengah jam kemudian, mereka tiba di terminal Israel, dan harus menunggu bus yang akan mengantarkan mereka ke Yerusalem. “Ini adalah perasaan yang indah,” kata Bazz. “Ini adalah perasaan penting bagi umat Islam untuk datang pada bulan Ramadhan untuk sholat di masjid suci, Al-Aqsa.”

Bazz, merupakan pensiunan jurnalis yang pernah menjadi kepala pemrograman di TV Palestina di Gaza. Ia biasa mengunjungi Yerusalem dan kota di Tepi Barat Ramallah saat bekerja dulu. Tapi setelah Israel memberlakukan blokade di wilayah pesisir ini pada tahun 2007, membatasi dan mengendalikan arus orang dan barang yang keluar-masuk Gaza, dia hanya bisa pergi pada satu kesempatan. Ia dan istrinya mendapat izin sehari untuk mengunjungi Al Aqsa saat Idul Fitri di tahun 2016.

Bazz menceritakan bagaiman ketimpangan dan penderitaan yang mereka alami setelah diblokade Israel. Mereka tak bisa bebas beribadah di masjid suci ketiga umat Islam setelah Masjidil Haram dan Nabawi ini. “Ini adalah kota suci, memiliki tempat khusus di dalam hati kami, saya merasa sangat senang bisa datang ke Yerusalem untuk berdoa di sini,” katanya.

Selain pembatasan beribadah, warga Gaza juga harus menerima kebijakan pembatasan pasokan listrik dari Israel. “Kami hanya menikmati listrik 3-4 jam setiap hari. Hidup di sana sangat menyedihkan dan sulit, jadi ketika kami datang ke sini, ini sangat berarti bagi kami.”

Israel mulai memberlakukan izin khusus untuk sholat Jumat sejak 2014 lalu. Setiap pekannya, mereka hanya mengeluarkan izin kepada 200 orang, khusus bagi warga yang berusia di atas 60 tahun. Selama Ramadhan ini, pemerintah menambah kuota.

Sumber: Al Jazeera

Advertisement