
SAMPAI hari ini belum ada titik terang, hubungan diplomatik terhadap Qatar yang diputus oleh negara tetangganya, Bahrain, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) (5/6) dan diikuti sejumlah negara lainnya akan dipulihkan.
Qatar, dalam upaya memenuhi kebutuhan bahan pangan dan air yang selama ini tergantung impor, “merapat” ke Iran dan Turki yang cukup tanggap menangkap peluang.
Iran mengerahkan pesawat udara untuk mengirim ratusan ton sayuran dan buah-buahan bagi Qatar yang dikucilkan dan juga membuka koridor udaranya bagi Qatar Airways, setelah akses darat, laut dan udara dari dan ke sejumlah negara tetangganya ditutup pasca pemutusan hubungan diplomatik.
Qatar juga membuka jalur pelayaran baru ke pelabuhan Sohar dan Salaah di Oman untuk menggantikan pelabuhan Jabal Ali dan Al Fujaerah (UEA) terutama untuk mengekspor produk gasnya ke konsumen utama di China, India dan Jepang
Turki yang memang memiliki perjanjian pertahanan dengan Qatar (2014) menyiapkan ribuan pasukannya untuk melindungi Qatar dari kemungkinan serangan tetangganya.
Aksi pengucilan Qatar diikuti Mesir, kemudian menyusul Chad, Libya, Maladewa, Mauritania, Mauritius, Senegal dan Yaman karena mereka menganggap Qatar sebagai sarang dan juga donator bagi kelompok fundamentalis seperti Al Qaeda, Hamas, NIIS, Ikhwanul Muslimin (IM) dan Hizbollah.
Selain itu, Arab Saudi, Bahrain dan UEA yang menerapkan sistem monarki absolut terganggu oleh kehadiran stasiun TV Al Jazeera bermarkas di Doha, Qatar dengan kritik-kritik tajamnya atau tayangan program-program pro-demokrasi di negara-negara tersebut.
Sementara itu Ketua Centre for Dialogue and Cooperation among Civilization Din Samsudin meminta agar pemerintah RI lebih proaktif memparakasai upaya mediasi antar Qatar dan negara-negara tetangganya.
Bisa mengancam RI
Menurut Din, jika dibiarkan terus, krisis yang terjadi tidak saja akan mengancam kawasan Timur Tengah, tetapi berbahaya bagi eksistensi Islam dan juga Indonesia.
Sedangkan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mut’i menilai, Indonesia adalah negara yang dapat diterima oleh banyak pihak tremasuk dengan negara-negara di kawasan Teluk yang saat ini berseteru.
“Indonesia memiliki modal politik untuk menjadi mediator dalam sengketa antara Qatar dan negara-negara Arab, “ ujarnya.
Sejauh ini, misi diplomatik Emir Kuwait Sheikh Sabah Ahmed al-Sabah yang juga membawa pesan Raja Arab Saudi Salman bil Abdulaziz al-Saud gagal membujuk Emir Qatar Sheikh al-Thani agar negaranya tidak “berseberangan” dengan negara-negara di sekelilingnya.
RI, jika hendak memediasi krisis diplomatik di Timur Tengah tentu harus dengan seksama mengkaji dulu akar permasalahan dan pola hubungan antarnegara Arab.
Qatar selama ini membina hubungan baik dengan AS, Iran dan Turki serta proaktif memediasi konflik di kawasan seperti yang terjadi di Lebanon, Suriah, Sudan, Palestina dan Yaman.
Jaringan TV Al Jazeera menunjukkan keterpihakannya pada gerakan demokratisasi di Timur Tengah melalui Revolusi Musim Semi di Arab pada awal 2011. Oleh sebab itu Mesir juga ikut-ikutan memutuskan hubungan diplomatik, karena presiden saat ini, Abdel Fattah el-Sisi berseberangan dengan Qatar.
Presiden Mesir sebelumnya, Mohammad Morsi (2013) yang didukung IM, dan juga Qatar digulingkan oleh el-Sisi.
Pengucilan Qatar jangan-jangan hanya lah casus belli atau pemantik akibat akumulasi persoalan yang harus diurai satu-satu untuk mencari solusinya. (AP/AFP/Reuters/NS)




