KABO–Malang benar nasib pengungsi di Republik Afrika Tengah. Ketika ratusan juta muslim merasakan bahagia saat berbuka puasa, mereka justru merana. Tak ada makanan dan minuman yang bisa disantap untuk membatalkan puasa.
Ada 2.600 pengungsi muslim yang mendiami perbatasan Chad dan Republik Afrika Tengah. Mereka adalah pengungsi internal (IDP) yang berlindung dari kekerasan rasial di negaranya.
“Kami berpuasa, tapi kalau sudah waktunya makan, kami tidak punya cukup makanan untuk semua orang,” kata Tidjiana Abotor, salah seorang pengungsi.
Abotor bersama raibuan warga lainnya telah mengungsi sejak 2014 lalu. Mereka melarikan diri dari ancaman persekusi yang dilakukan kelompok anti-Balaka yang notabene beragama Kristen. Beberapa distrik di ibu kota Afrika Tengah, Bangui, yang ditinggali komunitas Muslim mendapatkan blokade.
Penderitaan mereka selama di kamp pengungsian diceritakan Kaltoum Oumar. Sudah tiga kali Ramadhan ia lalui di kamp pengungsian, dan kondisinya selalu sama, kekurangan makanan.
“Puasa di sini sangat berbeda dengan saat saya tinggal di Bangui. Di sini, serba kekurangan makanan, dan saya cemas sepanjang waktu,” kata Oumar, seperti dilansir Al Jazeera.
“Saya melakukannya karena itu perintah dari Tuhan,” tambahnya. “Dan saya menggunakan waktu ini untuk berdoa agar situasinya akan berubah,” tambahnya.
Tak banyak yang bisa dilakukan oleh para pengungsi untuk mencari makanan. Gerak mereka terbatas, sementara bantuan dari lembaga internasional tidak mencukupi. “Kami tidak punya apa-apa, kami hanya duduk, dan menunggu hari berlalu,” kata Abotor.
Selama delapan bulan terakhir, penduduk kamp mengatakan bahwa mereka baru menerima dua kali bantuan makanan, yang masing-masing hanya bertahan sebulan.
Seorang perwakilan dari Program Pangan Dunia (WFP) mengatakan kepada Al Jazeera bahwa badan PBB tersebut memiliki masalah selama setahun terakhir untuk memberikan bantuan. “Sangat berbahaya untuk membawa truk kami ke sini setelah serangan kerap terjadi kepada lembaga kemanusiaan, dan jalan-jalan sangat buruk sehingga banyak truk yang mogok,” kata Cyridion Usengumuremyi, kepala kantor wilayah WFP.
Dari rencana penanganan PBB, hanya 30 persen yang terealisasi. Program bantuan kemanusiaan telah dikurangi dan bahkan ditutup dalam beberapa bulan belakangan. Akibatnya, ribuan orang terancam kelaparan.
Kekurangan makanan di kamp tersebut merupakan simbol dari krisis pangan dan kemanusiaan yang dihadapi negara ini. Kerusuhan sporadis di kota-kota dan desa-desa, sering terjadi antara kelompok bersenjata yang berbeda, telah mendorong 25 persen penduduk keluar dari rumah mereka.





