Ahmad Juwaini Ingatkan Dompet Dhuafa Kelola Aset Wakaf Lebih Produktif dan Berkelanjutan

SUKABUMI, KBKNEWS.id — Pengelolaan aset wakaf secara optimal menjadi salah satu pilar kunci dalam memperkuat perekonomian masyarakat serta menjaga keberlanjutan program-program keumatan. Ketua Pengurus Dompet Dhuafa, Ahmad Juwaini, menegaskan komitmennya untuk terus mendorong aset-aset wakaf agar tidak hanya berdiri sebagai simbol fisik, melainkan dapat dikelola secara produktif, mandiri, dan sustainable.

Langkah nyata tersebut diwujudkan melalui peresmian Kebun Pangan Madaya di kawasan Pesantren Tahfidz Green Lido, Kabupaten Bogor. Kawasan ini berdiri di atas tanah wakaf seluas ribuan meter persegi yang kini dikembangkan menjadi ekosistem pendidikan Al-Qur’an sekaligus pusat kegiatan pertanian berbasis keagamaan dan lingkungan.

Dalam sambutannya, Ahmad Juwaini menekankan pentingnya sinergi antara pengembangan keagamaan dan penguatan ekosistem lingkungan. Kehadiran fasilitas pendidikan seperti pesantren dan masjid harus berjalan seiring dengan pemanfaatan lahan secara hijau untuk menopang kebutuhan ekonomi kawasan tersebut.

“Di lingkungan pesantren ini, kita akan melihat nantinya dua hal yang harus tumbuh. Yaitu yang terkait ketahfidzan atau ke-Al-Qur’anan, sekaligus juga tumbuhnya infrastruktur ekosistem kehijauan itu sendiri,” ujar Ahmad Juwaini di Bogor.

Ahmad menjelaskan bahwa integrasi antara nilai-nilai keislaman dan lingkungan merupakan konsep dasar yang telah lama dipraktikkan oleh para ulama terdahulu. Menurutnya, pesantren pada masa lalu tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga ditopang oleh kemandirian ekonomi berbasis pertanian.

“Ustaz-ustaz kita, kiai-kiai kita di pesantren dari masa lalu menghidupkan pesantren dengan pertanian. Ibunya pesantren itu ilmunya, pondasinya ekonominya itu adalah pertanian,” jelas Ahmad.

Ia menambahkan bahwa program peresmian kebun pangan ini bukan sekadar seremoni dalam memperingati milad ke-33 Dompet Dhuafa. Lebih dari itu, program ini dirancang sebagai gerakan nyata yang memiliki keterukuran dampak, baik dari sisi pasokan gizi masyarakat maupun dampak sosial ekonomi.

Ahmad pun menginstruksikan jajarannya untuk merumuskan perencanaan yang matang agar program pengembangan lahan wakaf produktif ini memiliki standar indikator keberhasilan yang jelas dalam jangka pendek, menengah, hingga jangka panjang.

“Bagaimana membuat program yang dapat direplikasi dan dipakai oleh masyarakat kita. Kebun pangan ini minimal punya data-data yang lebih bisa disajikan, hasilnya seperti apa dalam satu tahun, dua tahun, dan tiga tahun,” kata Ahmad menegaskan.

Melalui optimasi aset wakaf produktif seperti Kebun Pangan Madaya, Dompet Dhuafa berharap dana amanah masyarakat dari zakat, infak, sedekah, dan wakaf dapat memberikan manfaat yang luas. Selain membuka lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan warga sekitar, langkah ini diharapkan mampu mewujudkan kemandirian pangan yang berkelanjutan.

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here