TENGGAT WAKTU dua bulan untuk membasmi perlawanan kelompok Maute di Marawi, Pulau Mindanao, Filipina selatan ternyata belum cukup bagi pasukan pemerintah dan sejauh ini pertempuran sporadis masih berlangsung.
Hal itu lah yang memaksa Presiden Rodrigo Duterte untuk mengajukan perpanjangan masa darurat militer di Pulau Mindanao yang sudah diberlakukan selama 60 hari sejak 23 Mei lalu.
Rencana Duterte meminta perpanjangan masa darurat militer tidak sepenuhnya berjalan mulus karena muncul kekhawatiran sebagian anggota kongres bahwa hal itu bisa membuka peluang bagi penyalahgunaan kekuasaan.
Namun demikian, mayoritas kongres kemungkinan akan mendukung Duterte, mengingat sebagian besar anggota adalah para sekutunya.
Dengan bantuan pesawat intai P-3C-Orion dari Australia , pesawat-pesawat tempur AU Filipina yang mengandalkan pesawat anti gerilya OV-10 Bronco dan heli Bell 412 buatan AS serta jet tempur FA-50 buatan Korsel leluasa menjatuhkan bom atau meluncurkan roket ke posisi milisi Maute.
Kelompok ekstrim pimpinan Maute bersaudara (Abdullah dan Omar) serta Isnilon Hapilon  yang saat merebut kota Marawi berkekuatan 700 orang, saat ini tersisa sekitar 60 orang yang masih bertahan.
Namun tidak mudah untuk menghabisi mereka, bahkan gerak maju pasukan pemerintah terhambat untuk menghindari jatuhnya korban, karena milisi Maute berlindung dengan baik di balik reruntuhan bangunan, saluran air dan lorong-lorong sempit di kawasan permukiman yang padat di bagian kota Marawi.
Jika memaksakan masuk, pasukan pemerintah bisa dijadikan sasaran empuk oleh para penembak runduk milisi Maute yang agaknya cukup berpengalaman dalam perang gerilya kota.
Pemberontak Maute juga menggunakan warga yang terperangkap perang sebagai tameng manusia . Masih beruntung, mayoritas warga Marawi berhasil melarikan diri atau mengungsi ke kota-kota yang lebih aman.
Pasukan pemerintah sejauh ini masih melancarkan bombardemen dari udara dan tembakan artileri ke posisi kelompok Maute di tengah kota. Menurut catatan, konflik di Marawi telah menewaskan 413 anggota kelompok Maute, 98 anggota tentara pemerintah dan 45 warga sipil.
Warga Marawi yang mendambakan perdamaian dan kehidupan normal, tampaknya masih harus bersabar. (AP/AFP/Reuters/NS)





