Desakan Ekonomi Membuat Bocah 13 Tahun ini Putus Sekolah dan Jualan Pempek

pempek

JAKARTA – Peluh membasahi dahi Fikhri. Meski wajahnya tampak lelah namun bocah berusia 13 tahun itu pantang istirahat sebelum pempeknya terjual. Fikhri terpaksa berjualan pempek lantaran desakan ekonomi.

Setiap siang ia menjajakan panganan khas Sumatera Selatan itu di sekitar Cengkareng, Jakarta Barat. Yang lebih menyedihkan sudah sejak lama Fikhri tidak sekolah lantaran ketiadaan biaya.

“Saya sudah enggak sekolah, seharusnya saya sudah kelas 1 SMP kalau masih sekolah”, kata dia seperti diviralkan oleh @infia_fact

Fikhri mengatakan, awalnya tidak mau melanjutkan sekolah karena sempat tinggal kelas saat duduk di kelas 5 SD. Namun, kini dirinya mengaku sangat ingin melanjutkan sekolah.

“Saya dulu sekolah di SDN 20 Cengkareng, tapi nilai saya jelek dan tidak ada biaya lagi untuk lanjut sekolah. Saya malu, lalu bilang ke Bapak, Ibu enggak mau lanjut sekolah dan diizinkan. Uang hasil jualan juga masih buat bantu-bantu Bapak Ibu. Saya pengen banget ikut paket C kayak teman saya”, ungkap anak ke 3 dari 4 bersaudara itu.

Ayah Fikhri hanya penjual batu akik di Pasar Susun, sedangkan saudara pertamanya menjadi cleaning service.

“Kakak kedua masih sekolah kelas 3 SMP, terus masih punya adik umur 2 tahun. Ibu saya enggak kerja”, kata Fikhri.

Sepotong pempek yang dijual Fikhri hargi Rp 4 ribu, dari situ Fikhri mengaku bisa mengantongi untung Rp 500. Fikhri mengaku sering mendapatkan pelanggan baik hati yang mau membayar lebih.

“Ini nggak selalu habis sih, tapi saya bisa dapat Rp 50 ribu sampai Rp 75 ribu sehari. Tapi nanti juga kalau Bapak, Ibu ada kebutuhan saya kasih, tapi saya tetap nyimpen sedikit buat ditabung. Akhir-akhir ini ada bapak-bapak baik, setiap Jumat saya dikasih Rp 100.000, nanti saya kasih ibu semua”, kisah dia.

Fikhri memiliki mimpi yang selalu tersimpan di benaknya. Ia sudah sering disarankan oleh kedua orangtuanya untuk kembali melanjutkan pendidikan. Namun hal tersebut masih terkendala kondisi perekonomian.

“Saya pengen jadi pengusaha sukses, bisa beliin Bapak, Ibu rumah. Jadi saya pengen sekolah lagi. Ya katanya saya suruh sabar dulu sampai uang cukup. Makanya saya pengennya itu kejar paket C itu,” ujarnya.

Advertisement