Rokok Sebabkan Indonesia Darurat Gizi

Ilustrasi/ Kontan.co.id

BOGOR – Indonesia dinilai darurat gizi dan penyebab tidak langsungnya adalah persediaan pangan terutama pada daya beli ekonomi keluaga pembeli rokok.

Hal tersebut diungkapkan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Abdillah Ahsan dalam workshop “Mendorong Pelarangan Iklan, Promosi, Sponsor Rokok untuk Melindungi Anak Indonesia” yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta, di Kota Bogor, Jawa Barat, Minggu (20/8/2017).

Selain itu, Indonesia juga menghadapi permasalahan kesehatan yakni penyakit menular (TBC,ISPA, penyakit infeksi lainnya), dan penyakit tidak menular (hipertensi, DM, stroke, dan PJK).

 

Hasil studi dari tahun 2007 sampai 2013 menunjukkan, masalah gizi pada balita terus meningkat. Seperti gizi buruk tahun 2007 sebesar 5,4 pada tahun 2013 naik menjadi 5.7. Prevalensi balita dan wanita dengan gizi kurang juga meningkat, ada 37,2 persen balita pendek, dan 37,1 persen wanita hamil dengan anemia di tahun 2013.

Dalam hal ini ia mengaitkan dengan daya beli masyarakat terhadap persediaan pangan. Kebiasaan merokok 12 batang per hari, jika disederhanakan dengan belanja telur, nominal tersebut dapat membeli kurang lebih setengah kilogram telur. Telur pangan yang baik untuk anak dalam meningkatkan gizinya.

Berdasarkan data BPS dari 258 juta penduduk Indonesia, jumlah penduduk miskin sekitar 27,76 juta jiwa atau 10,70 persen. Rokok kretek filter salah satu komoditi yang memberikan pengaruh besar terhadap garis kemiskinan (September 2015, BPS) yakni sebesar 8,08 persen di perkotaan, dan 7,68 persen di kawasan perdesaan. Rokok menempati psisinya nomor kedua setelah beras.

“Tahun 2016 rokok memberikan sumbangan kedua terbesar terhadap garis kemiskinan di perkotaan sebesar setelah beras 18,31 persen, yaitu sebesar 10,70 persen,” katanya, dikutip Antara.

Sedangkan di perdesaan, rokok memberikan sumbangan kedua terbesar terhadap garis kemiskinan setelah beras 25,35 persen yaitu sebesar 10,70 persen.

Ia menyebutkan, pada kuintil I yang merupakan 20 persen rumah tangga dengan pengeluaran perkapika sebulan terendah, pengeluaran untuk rokok sebesar 12,94 persen, tertinggi ketiga setelah pengaluaran untuk padi-padian (25,94 persen) dan makanan serta minuman jadi 19,32 persen.

Menurut dia, uang untuk merokok yang digunakan masyarakat miskin tidak dapat untuk memenuhi gizi ibu hamil. Untuk pemeriksaan dokter.

Fakta lainnya, hampir 80 persen orang miskin merokok di rumah tangga. Kebiasaan merokok tidak hanya membuat anggaran untuk gizi anak dan ibu hamil berkurang. Kebiasaan merokok di rumah, berdampak asapnya mengganggu rumah tangga lainnya.

 

Advertisement