Bukan Kurban Biasa

Berkurban melalui Dompet Dhuafa memiliki nilai lebih dibanding kurban yang biasa kita lakukan. Selain meluaskan manfaat, banyak peternak gurem di desa yang diberdayakan melalui program Tebar Hewan Kurban (THK).

 

Semburat mentari pagi secara perlahan meninggi di cakrawala. Kendati sang surya telah memancarkan sinarnya, pagi itu suasana Desa Cisitu, di Selatan Sukabumi Jawa Barat masih terasa sepi, sunyi dan senyap. Hanya aktivitas anak sekolah yang membuat suasana menjadi riuh sesaat.

Di sisi lain tampak satu dua ibu rumah tangga sibuk menyapu pekarangan rumah. Aktifitas warga justru terpusat di hamparan ilalang yang berjarak 4 kilometer dari desa. Di atas lahan milik PTPN VIII itu, belasan pria dewasa mengarit rumput. Setelah terkumpul 4 kuintal, baru lah desa mulai terlihat hidup berkat geliat peternak yang membagikan pakan ke kandang-kandang kambing di belakang rumah. Selain diberikan rumput, kambing-kambing tersebut juga diberikan pakan selingan berupa umbi kayu dan daun nangka guna memacu pertumbuhan daging.

“Untuk menjaga stamina dan daya tahan tubuh setiap minggu kambing-kambing ini diberikan suplemen multivitamin dan dilakukan pengecekan kesehatan,” ujar Keji (56) sambil membagikan rumput segar kepada 8 ekor kambing peliharaannya.

Sejak 2 tahun terakhir Keji menjadi peternak mitra Tebar Hewan Kurban (THK) Dompet Dhuafa. Bersama 13 peternak lainnya, ia diberi tanggung jawab untuk menggemukan 90 ekor kambing guna keperlua Hari Raya Kurban. Mereka tergabung dalam kelompok ternak yang dibina Kampung Ternak Nusantara (KTN) Dompet Dhuafa.

Urip Budiarto GM Resource Mobilization Dompet Dhuafa menuturkan program KTN dan THK merupakan ikhtiar Dompet Dhuafa dalam memberdayakan umat. Dompet Dhuafa ingin melihat Idul Adha tidak hanya dipenuhi oleh kegiatan berkurban semata, tetapi ibadah ini juga harus bisa menjadi upaya pemberdayaan sosial untuk meningkatkan perekonomian peternak.

“Melalui program THK kami ingin menjadikan Indonesia sebagai negara yang berdaulat dari sisi peternakan, kedaulatan ternaknya itu bisa membaik dari hari ke hari. Momen Idul Adha bisa dihubungkan dengan pemberdayaan peternak,” ucap Urip kepada Swaracinta akhir Juli lalu.

Urip menilai, pangsa pasar hewan kurban sangat besar di Indonesia. Ada 80 persen penduduk Indonesia yang beraga Islam, dan jika setengahnya ingin berkurban, setiap tahun setidaknya diperlukan 120 juta kambing hanya untuk disembelih.

Untuk itu program THK menjadi sarana yang pas untuk menjembatani peternak di desa dengan kebutuhan kurban penduduk kota. Meski tantangannya adalah, bagaimana kita bisa mengedukasi masyarakat bagaimana mengefektifkan ibadah kurban yang mereka lakukan.

“Kami mencoba mempertemukan kebutuhan di kota dengan stok yang ada di desa. Untuk THK tahun ini kami menargetkan di 33 Provinsi, 800 kecamatan dan 2500 desa ada transaksi ekonomi THK. Di sanalah fungsi THK menjadi strategis,” jelas Urip.

Setidaknya ada 4 poin penting kelebihan berkurban melalui THK. Pertama, THK mencoba memberdayakan warga desa khususnya peternak agar lebih kuat, mandiri dan memiliki jaringan yang strategis. Kedua, THK mencoba membantu dhuafa di pedesaan yang memiliki kambing atau sapi namun hanya sebatas harta, tidak dijadikan hewan kurban.

“Karena kultur masyarakat pedesaan bila membutuhkan dana darurat harus menjual ternak. Kami menginisiasi supaya hewan ternak milik warga diarahkan untuk kurban supaya lebih memiliki nilai ekonomis. Dengan adanya THK masyarakat desa juga bisa merasakan makan daging yang selama ini hanya menjadi sebuah keniscayaan,” kata Urip

Berikutnya, THk ingin memunculkan pemerataan kekayaan kota dan desa. Terakhir, THK bisa meningkatkan dan memperkuat modal sosial masyarakat. Urip menuturkan aktivitas kurban di suatu daerah secara tidak langsung menguatkan modal sosial masyarakat. Dengan aktivitas ini, rasa guyub warga akan semakin menguat, karena mereka melakukan bersama-sama proses penyembelihan hingga pembagian hewan kurban.

Berkurban = Memberdayakan

foto aditya kbk

Berkurban melalui Dompet Dhuafa memiliki nilai lebih dibanding kita berkurban seperti biasa. General Manager Program Pengembangan Sosial Dompet Dhuafa Filantropi, Beni, mengatakan, berkurban melalui THK ibarat sekali mendayung dua pulau terlampaui. “Dengan berkurban melalui THK Dompet Dhuafa, masyarakat juga memberdayakan peternak dan kaum dhuafa,” ujar Benny.

Para peternak adalah kaum dhuafa yang dibina dan didampingi agar menjadi peternak unggul. Mereka dibekali modal dan hewan ternak untuk menopang ekonomi mereka. Mereka pun diberi semangat dengan jaminan pemasaran dan pembelian di musim hari raya kurban dengan syarat hewan ternaknya memenuhi standar yang ditentukan. Karena secara otomatis mereka menjadi mitra pemasok hewan kurban bagi Dompet Dhuafa.

Dengan jaminan pemasaran dan pembelian itu, para mitra akan terus berkembang. Ekonominya pun akan membaik. “Langkah itu diharapkan juga bisa bergulir serta menginspirasi saudara muslim lainnya yang masih belum punya pekerjaan dan terbelenggu kekurangan, untuk menjadi mitra THK selanjutnya. Hal ini akan terus menggelinding seperti bola salju,” jelas Beni.

Saat ini, sedikitnya ada 1.675 peternak yang menjadi mitra dalam program THK Dompet Dhuafa. Mereka tergabung ke dalam 67 kelompok ternak. Dari seluruh mitra itu, 60 persennya adalah peternak kecil yang selama ini dibina Dompet Dhuafa. Dengan demikian, nilai transaksi kurban yang sangat besar itu bisa dirasakan oleh peternak-peternak gurem yang selama ini hidup di desa-desa.

Sekedar gambaran, tahun ini Dompet Dhuafa menargetkan dapat menghimpun 25 ribu pekurban. Jika rata-rata harga kambing dipatok sebesar Rp2.000.000 (sudah termasuk ongkos dan operasional), maka transaksi yang berputar saat Idul Adha, khusus melalui Dompet Dhuafa sebesar Rp 50 miliar. Nilai transaksi itu sebagian besarnya dinikmati oleh peternak-peternak gurem tadi.

Keberadaan mitra di hampir seluruh provinsi ini juga menjadi “rahasia” Dompet Dhuafa bisa menyebarkan kurban ke berbagai pelosok Nusantara dalam waktu singkat. Karena memang selama ini, sasaran pemberdayaan program peternakan Dompet Dhuafa ada di desa-desa. Oleh karenanya, tak heran saat hari tasyrik pun Dompet Dhuafa masih melayani pekurban yang dagingnya ingin disalurkan di daerah.

Daerah-daerah yang menjadi sasaran pembagian kurban ialah daerah tertinggal, wilayah pemberdayaan Dompet Dhuafa, marjinal, pedalaman, lokasi bencana alam, terjadi krisis kemanusiaan dan kawasan yang ditinggali muslim minoritas. Untuk tahun ini target pendistribusian paling jauh adalah ke Wasior Papua.

 

Menjaga Kualitas

Meski hewan kurban yang disediakan Dompet Dhuafa dikelola peternak kecil di desa, bukan berarti hewannya tidak berkualitas. Dompet Dhuafa menetapkan standar yang tinggi untuk menjaga kualitas hewan kurban. Tim Pengendali Mutu / Quality Control (QC) yang dibentuk Dompet Dhuafa selalu melakukan uji kualitas secara berkala terhadap hewan-hewan yang hendak dikurbankan.

Bahkan, tak jarang tim QC harus menembus jalan terjal untuk mencapai kandang ternak di pelosok Nusantara. Mereka menyebar ke berbagai wilayah di Pulau Jawa, Sumatera, Nusa Tenggara, Sulawesi, Maluku, Kalimantan dan berbagai wilayah lain di Indonesia.

Di wilayah sebaran, poin utama QC bertugas adalah memastikan ketersediaan stok hewan ternak yang akan dikurbankan. Selanjutnya, mereka juga harus memastikan kualitas hewan agar memenuhi syarat dan ketentuan syariat. Proses QC ini merupakan bagian dari upaya Dompet Dhuafa dalam menjaga amanah dari para pekurban.

“Proses QC pertama dilakukan untuk memastikan semua mitra apakah telah menyediakan hewan ternak sesuai dengan kuota mereka masing-masing. Jika pada saat QC pertama dilakukan masih ada mitra yang belum menyediakan seratus persen jumlah ternak, maka akan dilakukan pengurangan kuota sesuai jumlah kekurangannya. Kemudian pada tahapan kedua, merupakan yang paling krusial. Dimana seluruh hewan ternak sudah harus memenuhi ketentuan bobot. Sehingga nantinya pada saat penyembelihan, tidak ada upaya manipulasi dari bobot ternak itu sendiri,” jelas Benny.

Tim QC sedikitnya melakukan dua kali kunjungan ke kandang atau sentra ternak sebelum pelaksanaan kurban. Kunjungan pertama dilakukan 3 bulan sebelum Idul Adha. Adapun kunjungan kedua dilakukan dilakukan 2 pekan sebelum pelaksanaan kurban.

Pada QC pertama, untuk bobot kambing (kelas reguler) harus mencapai 17-18 kg.  Sedangkan pada kunjungan kedua, bobot kambing minimal sudah mencapai 22,5 kg. Saat pelaksanaan kurban pun, Dompet Dhuafa juga mengirimkan tim monitoring agar pelaksanaan kurban dijalankan dengan semestinya. Para pekurban juga akan mendapatkan laporan dan bukti pemotongan berupa foto sebagai pertanggungjawaban.

Semua kegiatan THK Dompet Dhuafa diawasi oleh dinas peternakan setempat dan juga didukung oleh tim QC yang berpengalaman. Sehingga masyarakat tidak perlu khawatir untuk menyalurkan kurban melalui Tebar Hewan Kurban Dompet Dhuafa. [Aditya Kurniawan-Amirul Hasan]

 

 

 

 

 

Advertisement