
WALAU tidak sampai ke tahap konfrontasi seperti terjadi di saat Perang Dingin beberapa dekade lalu, krisis diplomatik antara Amerika Serikat dan Rusia cukup mengusik suasana kemitraan di tengah era globalisasi saat ini.
AS (31/8) meminta Rusia menutup konsulatnya di San Fransisco , Washington dan New York dalam waktu 48 jam sebagai balasan atas aksi Rusia memerintahkan pengurangan hampir separuh staf perwakilan AS di Rusia (dari 755 menjadi 455).
Pemerintah AS menyebutkan, penutupan konsulat Rusia di ketiga kota dilakukan sebagai respons atas tindakan Kremlin sebelumnya yang dianggap “tidak beralasan dan merugikan” kepentingan negaranya.
Rusia harus sudah mengosongkan kantor konsulatnya di New York dan kantor misi dagang di ketiga kota tersebut, Sabtu ini (2/9), sedangkan kantor Kedubesnya di Washington masih diizinkan beroperasi.
Aksi berbalas di level hubungan diplomatik AS-Rusia merupakan kelanjutan keputusan Presiden AS Barack Obama pada 2016 terkait pengusiran puluhan diplomat Rusia yang dituding ikut campur tangan dalam proses pilpres AS.
Obama saat itu juga memerintahkan penutupan pusat rekreasi Rusia di New York dan Maryland serta melarang kegiatan sejumlah perusahaan asal negeri beruang merah itu di AS.
Presiden Rusia Vladimir Putin saat itu tidak membalas aksi diplomatik yang dilancarkan Presiden Obama, mengingat Trump yang kemudian menggantikan Obama berjanji untuk memulihkan hubungan kedua negara.
Namun Trump kemudian tidak bisa menghindar dari keputusan Kongres AS yang menggolkan RUU terkait pengenaan sanksi terhadap Rusia pada Agustus lalu, bahkan tidak ada peluang baginya untuk meringankan sanksi tanpa seizin Kongres.
Sejauh ini Rusia belum memutuskan aksi balasan terhadap aksi diplomatik baru yang dilancarkan Presiden AS Donald Trump, kecuali Menlu Rusia Sergei Lavrov (1/9) yang berjanji akan melakukan tindakan setimpal.
“Kami akan merespons keras pihak yang menyakiti kami, (dengan melakukan tindakan-red) yang didorong niat merusak hubungan kedua negara, “ demikian Lavrov dalam pernyataan yang agaknya dialamatkan pada Presiden Trump.
Sangat disayangkan krisis diplomatik AS-Rusia terjadi di tengah upaya global untuk memerangi terorisme dan menekan Korea Utara agar menghentikan ujicoba rudal balistik dan senjata nuklirnya.
Semoga AS dan Rusia kembali ke titik temu guna memulihkan kembali hubungan diplomatik mereka dan bahu-membahu mengatasi persoalan dunia. (AFP/AP/Reuters/NS)




