KUALA LUMPUR – Menteri Luar Negeri Malaysia Datuk Seri Anifah Aman mengatakan Asean tidak lagi dapat menangani masalah penganiayaan Rohingya di Myanmar.
Dia mengatakan Asean telah gagal menangani masalah ini secara efisien sehingga Malaysia akan terus mengangkat isu tersebut di Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Organisasi Kerjasama Islam (OKI).
“Di Asean, aku sudah putus harapan. Kami memiliki tujuh pertemuan, dan Malaysia menyatakan keprihatinan kami kepada Myanmar dan mereka (Myanmar) berjanji untuk menangani masalah tersebut.” ungkapnya, dilansir The Star.
“Sampai hari ini, tidak ada yang dilakukan. Karena itu, Malaysia bisa menaikkannya di tingkat lain, seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa dan OKI, “katanya usai bertemu dengan Menteri Luar Negeri Brasil Aloysio Nunes di Wisma Putra.
Pada hari Selasa (5/9/20170, Wisma Putra memanggil Duta Besar Myanmar untuk Malaysia, U Sein Oo, untuk mengungkapkan ketidaksenangan Malaysia atas kekerasan di negara bagian Rakhine.
Di Melaka, Presiden Majelis Pemuda Dunia (WAY) Datuk Seri Idris Haron mengecam pemimpin Myanmar de facto Aung San Suu Kyi atas kekerasan tersebut, dengan mengatakan bahwa dia tidak dapat lagi dipandang sebagai “Mahatma Gandhi dari Millenia”.
Idris mengatakan bahwa peraih Nobel telah membiarkan dunia dalam membela hak-hak minoritas Rohingya karena masyarakat tersebut menjalani perlakuan dan penderitaan yang tidak manusiawi.
“Dia menjadi inspirasi bagi kita semua pada satu titik namun tidak lagi dipandang sebagai pejuang hak asasi manusia,” katanya dalam sebuah konferensi pers.
Idris, yang juga Kepala Pemerintahan Melaka, mengatakan bahwa Suu Kyi menolak untuk bersimpati dengan penderitaan Rohingya.
“Rohingya diperlakukan dengan kejam dan terisolasi tapi mengapa seorang peraih Nobel tidak menahan kekejaman? Tidak ada orang yang harus menjalani genosida, serangan fisik dan intimidasi oleh mayoritas, “katanya.





