GAZA – Masyarakat Gaza mengalami dampak kesehatan yang buruk, efek dari penutupan perlintasan Rafah, antara lain kelangkaan obat-obatan dan kurangnya perlengkapan medis, hal ini dapat mengancam keselamatan para pasien.
Hal ini terungkap dari rilis dari Lembaga HAM Center yang menerbitkan laporan seputar dampak penutupan perlintasan Rafah terhadap kehidupan warga Palestina di Gaza, dan dampak keseluruhan blokade terhadap kehidupan mereka, Selasa (28/7/2015).
Disebutkan juga, perlintasan ditutup secara berkelanjutan, kecuali hanya beberapa hari dibuka, sejak peristiwa 24 Oktober tahun lalu, perlintasan ditutup selama 257 hari, dan hanya dibuka selama 19 hari.
Penutupan ini juga berdampak buruk pada kehidupan rakyat di Gaza selain di sektor kesehatan, juga di bidang pendidikan dan hak bepergian.
Menurut laporan Infopalestina, lembaga ini meminta Mesir yang sebelumnya menjadi juru damai gencatan senjata antara Israel dan Hamas, diminta menunaikan tanggungjawab hukum dan komitmen terhadap kewajiban internasional yang berada di pundaknya.
Mesir bertanggung jawab untuk menghentikan blokade dan membuka perlintasan Rafah, agar bisa menyediakan kebutuhan pokok dan layanan bagi warga Palestina di Gaza, dan mengabaikan perjanjian Mesir-Israel maupun Palestina-Israel, dimana Mesir menjadi bagian dalam perundingan tersebut.




