PENDAWA GUGAT

Antasena-Gatutkaca protes kepada Betara Narada, kenapa dewa kahyangan pada bolot.

SECARA historis negeri Ngastina adalah haknya keluarga besar Pendawa. Tapi faktanya sekarang, negara itu dalam kekuasaan Prabu Duryudana dari keluarga Kurawa. Berulang kali Prabu Puntadewa Dkk menggugat kembalinya negeri itu, tapi hanya dijawab tarsok-tarsok macem ditagih kreditan panci. Akhirnya, daripada capek Pendawa menyerahkan semuanya pada Perang Baratayuda yang sudah menjadi garis dan ketentuan dewa. Jika langkah Pendawa benar, pasti menang dan negeri Ngastina kembali ke pangkuannya.

Tapi kapan Perang Baratayuda Jayabinangun (PBJ) itu? Waiting list haji masih ada ancer-ancernya, tapi waiting PBJ sama sekali gelap, tak ada tanggal pastinya. Pihak kahyangan jika ditanya soal itu jawabnya selalu ngambang: masih dalam proses. Kapan? “Secepatnya,” kata Betara Narada niru gaya Presiden Jokowi dari Indonesia.

Hal ini membuat generasi muda Pendawa tidak sabar lagi. Dipimpin Antasena anak Werkudara, status negeri Ngastina kembali  mau diungkit. Soal negara bolehlah ditunda, tapi aset-aset yang menjadi lahan bisnis Prabu Duryudana harus dinasionalisasi keluarga Ngamarta. Karena itu memang hak Pandawa.

“Ngastina dulu milik Eyang Palasara, tapi lalu dirampok oleh Sentanu. Ketika Sentanu bikin yayasan ini itu, hasilnya kini kok yang menikmati keluarga Kurawa. Itu mestinya menjadi milik Pandawa,” kata Antasena dalam sebuah diskusi di Warung Daun bersama Gatutkaca, Abimanyu, Antarejo dan Irawan.

“Lho kok dimas Antasena malah tahu sedetil itu?” potong Gatutkaca.

“Makanya, baca buku sejarah, jangan hanya ngegrup di WA!” sindir Antasena.

Jika merunut sejarah yang tentunya diamini oleh sejarawan Asvie Warman Adam, pendiri negeri Ngastina memang Begawan Palasara yang terkenal rambut gondrongnya itu. Saking lebatnya itu rambut, saat bertapa dimanfaatkan manuk emprit untuk bersarang. Padahal burung itu sekedar penjelmaan dewa untuk mengetes kesungguhan Palasara. Ternyata dia lolos ujian, sehingga selepas bertapa dia malah dapat jodoh Dewi Durgandiri yang cantik, dan sekaligus dihadiahi tanah HGB yang kemudian dibangunnya menjadi negeri Ngastina.

Dalam kerjasama nirlaba sebagai suami istri, lahirlah Abiyasa. Saat bayi Abiyasa usia selapan (36 hari), datanglah Sentanu dari negeri Talkanda, sambil membawa bayi lelaki yang nangis melulu karena pengin nyusu. Karena iba atas penderitaan si bayi Dewabrata, dengan rela hati Durgandini menyusui bayi itu. Walhasil “indomilk” tersebut dibagi dua antara bayi Abiyasa dan bayi Dewabrata.

“Terima kasih Mbakyu, tanpa pertolonganmu, anakku bisa mati kehausan.”

“Nggak papa, apalah sekedar air susu. Masih mahalan susu kuda liar di radio swasta,” jawab Durgandini merendah.

Tapi bak pepatah “air susu dibalas air tuba”, begitu melihat kecantikan Dewi Durgandini, Raden Sentanu langsung ukuran celananya berubah. Dia pikir, dari pada tanggung, jangan hanya bayi Dewabrata yang numpang nyusu, kenapa tidak ayahnya sekalian ikut “nyusu”? Jelasnya, dia ingin mengawini wanita itu secara siri, mesti itu sama saja harus merebut istri Prabu Palasara yang menolongnya.

Beruntung Prabu Palasara ini wayang apikan aten. Niat Sentanu yang baru saja ditolongnya itu ditanggapi dengan santai. Dia tidak marah istrinya mau dikawin siri, karena itu katanya mengubah zina jadi ibadah. Sebab terus terang saja, saking terlalu banyak laku prihatin, dia “selalu gagal” dalam urusan suami istri. Terbukti asal Prabu Palasara KO duluan, Durgandini jadi uring-uringan, banting piring dan gelas.

“Jangankan hanya istri, kalau Anda butuh negeriku Ngastina ini, silakan ambil. Saya mau fokus untuk bertapa saja.”

“Ah yang bener? Tapi ngomong-omong PAN (Pendapatan Asli Negara)-nya berapa setiap tahun?” kejar Raden Sentanu.

“Ya cukuplah. Pokoknya tak sampai cari utangan ke LN,” kata Palasara.

Demikinlah, melalui notaris Kartono Mulyakin, dilakukan pengalihan hak Dewi Durgandini dan negeri Ngastina. Hari itu juga Palasara kembali bertapa di gunung, menjadi begawan sebagaimana tekadnya. Dia sama sekali mungkur kadonyan. Tak mau nonton TV dan buka internet. Pegang HP saja sudah ogah sama sekali.

Negeri Ngastina kini sudah pindah tangan kepada emigran dari Talkanda tersebut. Sebagai raja baru yang kreatif, Prabu Sentanu sangat mahir menggali uang. Dia membetuk yayasan Sentanu dengan modal setoran uang dari para pengusaha. Uang itu untuk membantu orang miskin, termasuk membiayai pendidikannya. Berkat Yayasan Sentanu, banyak wayang miskin bisa kuliah dan lulus sarjana. Tapi belakangan, dana sumbangan para pengusaha itu banyak diselewengkan, padahal asetnya sudah membengkak hingga triliunan.

Itu terjadi jauh setelah Sentanu meninggal dan Ngastina dipimpin penerusnya, dari Abiyasa kemudian Pandu dan dilanjutkan Prabu Duryudana sekarang. Nah, inilah yang kini digugat oleh generasi muda Pandawa. Mereka menuntut agar aset-aset peninggalan Sentanu menjadi milik negara Ngamarta. Tapi Prabu Duryudana dan Patih Sengkuni  selalu menang di Pengadilan berkat hakim Tumenggung  Cepi Mukayat.

“Anak kemarin sore, kamu tahu apa? Yayasan Sentanu kini sudah tidak aktif, jadi tak ada keuntungan apa-apa.” kata Patih Sengkuni saat Antasena dan Gatutkaca gugat ke istana Gajahoya.

“Tapi Prabu Duryudana kok beli 5.000 senjata, hayo?” kejar Antasena.

“Gundulmu ampeg. Itu cuma 500, tahu! Kebanyakan makan berita hoax kamu” ledek Sengkuni lagi.

Lantaran Prabu Duryudana selalu dimenangkan, Antasena Cs terpaksa ajukan gugatan ke kahyangan Jonggring Salaka, yang dulu pernah mengusut skandal Prabu Sentanu. Melalui sidang kilat Betara Guru bisa menerima gugatan generasi Pendawa. Dulu saat Sentanu mati dan dimasukkan ke neraka jahanam, kahyangan lupa tidak membekukan yayasan-yayasan Sentanu.

“Gugatan nakmas Antasena bisa diterima, Prabu Duryudana selaku ahli waris harus bayar Rp 185 trilyun kepada Pandawa,” kata Betara Guru.

“Tapi eksekusinya setelah ada surat ketetapan dari Jonggringsalaka lho ya.” Pesan Patih Narada.

Keluarga Pendawa bertepuk tangan, karena gugatannya membawa hasil. Dengan dana itu bisa membangun negeri Ngamarta lebih baik. Prabu Puntadewa bermaksud membangun jalan tol, dengan kontraktor dari Cina termasuk buruh kasarnya. Ormas-ormas yang selalu mengkritisi pemerintah akan diberi dana abadi, agar tidak berdemo berjilid-jilid di lapangan Tegal Kurusetra.

Akan tetapi, dasar belum milik, saat SK itu dikeluarkan, tahu-tahu terjadi salah ketik. Prabu Duryudana hanya dipaksa bayar Rp 185 miliar, bukan Rp 185 triliun. Sudah barang tentu Antasena kembali gugat ke kahyangan.

“Telinga kalian semua jadi Bolot ya. Bagaimana bisa, triliun kok jadi miliar?” ujar Antasena kasar sekali.

“Nggak mungkinlah. Justru kalau telinga Bolot, untuk urusan duit selalu jelas pendengarannya,” bela Betara Narada.

Usut punya usut, kesalahan memang pada Betara Penyarikan. Lantaran capek mengetik berkas perkara beratus-ratus halaman, dia sampai salah-salah. Tak urung diomeli Patih Betara Narada. Ngetik pakai komputer saja salah melulu, dasar ndeso! (Ki Guna Watoncarita).

 

 

Advertisement