
BOGOR (KBK) – Hari ini Dompet Dhuafa dan Qatar Charity Foundantion melakukan peletakan batu pertama (ground breaking) pembangunan rumah sakit untuk dhuafa di komplek Rumah Sakit Rumah Sehat Terpadu (RS RST) Dompet Dhuafa, Parung, Bogor (3/10/2017).
Ketua Yayasan Dompet Dhuafa Republika Ismail A Said menuturkan, ground breaking ini merupakan bentuk tindak lanjut penandatanganan MOU antara Dompet Dhuafa dan Qatar Charity sejak April lalu.
“Tanggal 7 April lalu kita menandatangani MOU dan hari ini tanggal 3 Oktober kita akan meletakan batu pertama,” Ujar Islamil saat ground breaking.
Kata Ismail pembangunan Ini perlu dipercepat bahkan rumah sakit harus sudah bisa diresmikan pada akhir 2018 mendatang. Hal tersebut, lanjut Ismail, sebagai upaya dan bentuk tanggung jawab Dompet Dhuafa kepada donatur. Bila sudah terbangun maka RS ini merupakan RS berbasis wakaf keenam yang dikelola Dompet Dhuafa.
“Kami serius membangun rumah sakit ini, mulai dari bangunan, peralatan dan pelayanannya untuk memberikan informasi kepada dunia bahwa Indonesia khususnya Dompet Dhuafa mampu membangun rumah sakit bersama Qatar Charity,” ucap Ismail.
Country Director Qatar Charity Indonesia Karam Zeinhom mengatakan pihaknya memilih membangun rumah sakit bersama Dompet Dhuafa karena sama-sama memiliki tujuan yang sama yakni mengeluarkan dhuaga dari garis kemiskinan.
“Alhamdulilah nanti di rumah sakit ini ada 200 ranjang rawat inap dan Insa Allah akan bisa mengcover 1000 pasien,” jelas Karam.
Karam sependapat dengan ucapan Ismail bahwa pembangunan rumah sakit harus cepat supaya semakin cepat pula Dompet Dhuafa dan Qatar Charity menebar kebaikan.
“Kami terus terang sebagai NGO hal yang paling sulit adalah memilih mitra. Kami harus memilih mitra yang telah memiliki pengalaman dan alhamdulilah Dompet Dhuafa merupakan satu-satunya mitra terbaik kami,” ujarKaram
Menurut Karam semoga pembangunan rumah sakit ini dapat membantu pemerintah dan masyarakat Kabupaten Bogor mendapatkan layanan kesehatan.
“Semoga Allah jadikan tempat ini sebagai tempat keberkahan,” imbuhnya.
Drg Tri Wahyu Harini dari Dinkes Kabupaten Bogor mengatakan bertambahnya 200 tempat tidur merupakan sebuah langkah signifikan guna meningkatkan layanan kesehatan khususnya di Kabupaten Bogor bagian utara. Terlebih di daerah tersebut belum ada rumah sakit umum milik pemerintah.
“Penduduk Kabupaten Bogor ada 5,6 juta jiwa dengan kebutuhan tempat tidur 5500 unit. Sekarang baru tersedia 3000 tempat tidur. Ini lah yang jadi problem bagi pasien rujukan karena sering ditolak akibat kurangnya tempat tidur rawat inap,” kata Tri Wahyu.




