WASHINGTON – Pemerintahan Trump mengumumkan pada hari Kamis (12/10/2017) bahwa mereka akan menarik diri dari Unesco, organisasi kebudayaan dan pendidikan Perserikatan Bangsa-Bangsa, setelah bertahun-tahun Amerika Serikat menjauhkan diri karena mengganggap organisasi tersebut anti Israel.
Pemerintah juga menyebutkan tunggakan yang meningkat di organisasi tersebut sebagai alasan keputusan tersebut. Heather Nauert, juru bicara Departemen Luar Negeri, mengatakan pada hari Kamis di sebuah konferensi pers mengungkapkan, “Dengan bias anti-Israel yang telah lama didokumentasikan di Unesco, itu perlu diakhiri.” ungkapnya.
Sementara Amerika Serikat mengundurkan diri dari kelompok tersebut, administrasi Trump mengatakan bahwa mereka ingin terus memberikan perspektif dan keahlian Amerika kepada Unesco, namun sebagai pengamat nonmember.
Penarikan tersebut mulai berlaku pada akhir tahun 2018, namun menurut beberapa pejabat keputusan tersebut dapat ditinjau ulang.
Jika Unesco kembali “ke tempat di mana mereka benar-benar mempromosikan budaya dan pendidikan tentang semua itu, mungkin kita bisa melihat ini lagi,” kata Nauert, dikutip New York Times.
Unesco, Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dikenal dengan sebutan untuk situs Warisan Dunia, adalah agen pembangunan global dengan misi yang mencakup mempromosikan pendidikan seks, menghapus buta huruf, air bersih dan kesetaraan bagi perempuan.
Dalam sebuah pernyataan tertulis yang panjang, Irina Bokova, direktur umum Unesco, menyatakan penyesalannya atas keputusan tersebut dan mengatakan bahwa orang-orang Amerika berbagi tujuan tentang organisasi tersebut.
“Universalitas sangat penting bagi misi Unesco untuk memperkuat perdamaian dan keamanan internasional dalam menghadapi kebencian dan kekerasan, untuk membela hak asasi manusia dan martabat,” tulisnya.
Pada tahun 2011, Amerika Serikat menghentikan pendanaan Unesco karena perubahan amandemen berusia 15 tahun yang terlupakan yang mewajibkan pengurangan total pembiayaan Amerika ke badan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menerima Palestina sebagai anggota penuh.
Berbagai upaya oleh Presiden Barack Obama untuk membatalkan pembatasan hukum tersebut nyaris gagal di Kongres, dan Amerika Serikat kehilangan pemungutan suara di organisasi tersebut setelah dua tahun tidak membayar, pada tahun 2013.
Unesco bergantung pada Amerika Serikat untuk 22 persen dari anggarannya, kemudian yakni sekitar 70 juta dollar per tahun.
Selama Perang Dingin, Amerika Serikat mengundurkan diri dari agen tersebut pada tahun 1984 karena pemerintahan Reagan menganggap organisasi tersebut terlalu rentan terhadap pengaruh Moskow dan terlalu mengkritik Israel.
Presiden George W. Bush berjanji pada tahun 2002 untuk bergabung kembali dengan organisasi tersebut untuk menunjukkan kesediaannya untuk kerja sama internasional menjelang perang Irak.
Organisasi budaya di Amerika Serikat mengkritik keputusan tersebut, dengan mengatakan Unesco memainkan peran kunci dalam melestarikan warisan budaya penting di seluruh dunia.





