SEBAGAI putra raja yang lahir dari istri selir, Barata sangat menyadari bahwa dirinya tak punya kans menjadi raja Ayodya. Tapi sang ibu Dewi Kekayi selalu memaksakan kehendak, sehingga Prabu Dasarata pun menjadi stroke karenanya dan akhirnya meninggal. Ketika dimakamkan di San Diego Hills Karawang, Rama dan Sinta istrinya tak bisa hadir karena mereka masih dalam pengasingan, berkelana di tengah hutan demi memuaskan ambisi kekuasaan Dewi Kekayi istri ketiga sang ayah.
Sepeninggal Prabu Dasarata Barata dengan sengaja mencari Raden Rama beserta istrinya di tengah hutan Dandaka, untuk kembali ke Ayodya dan jumeneng nata sebagai raja penerus Prabu Dasarata. Sebab memang Rama lah yang sebetulnya berhak, karena dia lahir dari sang permaisuri Dewi Sokasalya.
“Sudahlah dimas, kamu saja yang jadi raja Ayodya. Kakanda lebih baik berkelana di tengah hutan ini. Ini jalan tengah untuk menjaga perasaaan almarhum Prabu Dasarata, agar tenang di alam baka. Dimas tidak usah risih, aku sendiri mengiklaskan kok.” Kata Raden Rama ketika ketemu adik kandungnya, di bawah pohon rindang di dalam hutan.
“Tapi bagaimana saya nggak risih kangmas, di medsos saya diledek terus. Saya dituduh konspirasi dengan ibuku, untuk meraih posisi raja Ayodya. Dalam survei Indo Barometer pun, elektabilitas saya hanya 21 %, jauh di bawah kangmas yang mencapai 70 %. Saya tak perlu jadi rajalah, duduk di DPD juga nggak papa.” Jawab Barata sambil terus membujuk sang kakak, agar kembali ke Ayodya.
Kenapa Barata optimis menjadi anggota DPD saja? Sebab dari alfabet nama, dengan nama Barata otomatis para calon yang huruf pertamanya “B”, akan dipasang di atas dalam daftar nama calon tetap (DCT). Rakyat pun pasti akan cenderung memilih nama-ama yang di atas, misalnya: Aceng Bakri. Meski tak jelas prestasi dan karakternya, karena namanya ditaruh di atas, terpilihlah dia jadi anggota DPD. Karena rakyat malas memilih nama-nama yang di bawah, meski kualitasnya lebih bagus.
Rupanya Barata gagal merayu Rama, sebaliknya Barata juga tak mau menjadi raja Ayodya. Sebagai antisipasi jangan terjadi kekosongan pemerintahan, jalan tengah adalah: Rama menyerahkan trompah (sepatu) sepasang miliknya, sebagai wakil dan simbol kekuasaan di Ayodya. Dalam setiap kebijakan pemerintahan, Barata hanya memilih “atas nama Ramawijaya” untuk tanda tangan di semua dokumen negara.
“Silakan dimas menjadi wakil saya dengan tenang. Tapi ingat, saat pidato jumenengan jangan sekali-sekali kamu menyebut “pribumi”, itu sedang sensitip.” Nasihat Raden Rama.
“Iya kakanda, saya siap menjunjung perintah kakanda. Segala kebijakan Ayodya pasti saya konsultasikan ke kakanda.”
Demikianlah, trompah sepasang merk Bally ukuran 42 itu segera dibawa Barata ke Ayodya. Ternyata rakyat bisa menerima meski kekuasaan Prabu Rama hanya disimbolkan dengan sepasang trompah. Buktinya Raden Barata berani mengklaim, penduduk Ayodya masih terbelah hanya di medsos saja. Dalam keseharian rakyat bisa menerima Barata sebagai Plt negeri Ayodya, apa lagi Barata selalu menggembar-gemborkan slogan: maju negerinya, bahagia rakyatnya.
Jumenengan berlangsung sukses. Raja Barata dilantik berdampingan dengan trompah Raden Rama, yang dikemas dalam sebuah kaca setebal 2 Cm. Tapi sehari setelah jumenengan Barata bingung, apa program yang hendak dijalankan? Terus terang, dia sama sekali tak pernah membayangkan akan jadi pejabat pamong praja. Jika tahu, pastilah dulu akan kuliah di IPDN Jatinangor, Bandung.
“Jadi saya harus bikin program apa Kangmas Rama?” Barata bertanya lewat HP.
“Apa saja kek. Program lama dimas tambahi saja pakai plus dan plus, kan bisa. Kartu Ayodya Pintar Plus, Kartu Ayodya Sehat Plus. Gitu saja kok repot.” Jawab Rama dari hutan, sambil sarapan pagi buah jamblang.
Tiba-tiba Barata menemukan gagasan. Agar kekuasaannya di Ayodya lebih legitimid, ke mana-mana saat blusukan akan mengenakan trompah pemberian kakak kandungnya itu. Tapi jika sering dipakai, lama-lama kan bisa jebol. Ngesolnya harus ke mana, karena itu trompah pemberian dewa di Jonggringsalaka. Kulitnya saja dari lembu kahyangan, yang tak boleh dipotong buat Lebaran, apalagi buat Kurban. Lembu-lembu keturunan Andini memang sangat disakralkan.
Akhirnya Prabu Barata punya ide, mau membuka pasang giri (sayembara) seizin Kemensos tentunya. Dia ingin membuat trompah duplikat, untuk operasional sehari-hari. Sedangkan aslinya tetap disimpan di Gedong Waja, yang dijaga 24 jam nonstop. Kata Barata, barang siapa bisa mendisain Trompah Rama dalam bentuk sepatu pantovel yang enak dipakai, akan diberi hadiah jalan-jalan ke Swiss, sekalian mbetuli jam.
“Sampeyan juga lucu. Katanya raja sakti mandra guna, tak mempan bacokan. Tapi pakai sepatu saja mlecet (lecet).” Sindir patih Baratsakethi.
“Maunya sih niru dewa kahyangan, pakai sepatu tanpa kaos kaki. Eh, malah sakit.” Prabu Barata terpaksa buka kartu.
Sayembara cukup banyak diminati rakyat, bahkan dari negeri seberang juga banyak. Tapi setelah diperiksa dan diuji kekuatannya oleh dewan yuri, yang terpilih justru dari negeri seberang. Tak masalah, nggak di Indonesia nggak di Ayodya, rakyatnya selalu bangga dengan produk asing.
Begitulah, Prabu Barata terus memerintah negeri Ayodya dengan penuh keberpihakan. Ketika sekelompok orang menguasai tanah negara dan menang di Pengadilan, Prabu Barata tak mau naik banding. Justru perintah Pengadilan untuk membayar ganti rugi Rp 25 miliar, disetujui saja. Hebat kan. Menyerobot tanah negara, malah diberi ganti rugi pulak. Tapi mau bagaimana lagi, Prabu Barata kadung terjebak pada slogan: maju negerinya, bahagia rakyatnya.
“Kita bangun saja rumah di dekat alun-alun Istana, nanti kan dapat ganti untung dari Prabu Barata,” kata gelandangan pendatang baru.
“Husy, ngaco. Ditangkep Satpol PP baru tahu rasa.”
Waktu terus berjalan. Meski Prabu Barata banyak blusukan, tapi perekonomian dan ketertiban di negeri Ayodya justru makin merosot. Di era Prabu Dasarata tak ada yang berani jualan di trotoar, kini sudah menjadi biasa. Paling parah, daya beli rakyat menurun. Pertokoan besar banyak yang tutup. Pusat-pusat grosir banyak yang gulung tikar. Habisnya, pajak tinggi konsumen menurun, dan buruh pabrik demo melulu tuntut kenaikah upah.
Tanpa terasa telah 5 tahun Barata mengemban amanat jadi Plt negeri Ayodya. Prabu Rama dan Sinta hendak pulang ke negerinya, setelah berjuang merebut Dewi Sinta dari tangan Prabu Dasamuka. Dia dibantu pasukan kera dari Pancawati pimpinan Sugriwa dan Hanoman, juga disponsori oleh Gunawan Wibisana adik kandung raja Alengka yang tamak doyan perempuan itu.
“Dimas Barata tak perlu menyambut kami berlebihan, sederhana saja. Anggaran terbatas. Jika anggaran tak diperketat, nanti lakon “Rama Tambak” jadi “Rama Tombok” dong”. Kata Raden Rama masih dari hutan.
“Oke kangmas.” Saya siap mengatur serah terima jabatan. Pakai sidang istimewa nggak kangmas?”
“Nggak usah, boros-borosi anggaran.” Jawab Rama lewat HP.
Raden Rama dan Dewi Sinta telah tiba kembali dari Pancawati. Rakyat Ayodya menyambut dengan gembira, begitu pula prabu wakil Barata. Serah terima jabatan pun dilakukan, dan Rama bergelar Prabu Ramawijaya Kalipatulah Kaping Kalih. Sementara, sambil menunggu posisi jadi komisaris BUMN, Barata ditunjuk sebagai penasihat kerajaan.
Prabu Rama pun mengambil trompah miliknya yang disimpan di Gedong Waja. Tapi saat hendak dipakai, ternyata terlalu kecil. Biasanya ukuran 42, kini tinggal 38. Mana mungkin sepatu bisa mengecil ukurannya? Memangnya kerupuk, lama-lama mengkeret kena angin.
“Kamu tukar ya trompah kerajaan ini?” tuduh Rama, karena ingat kasus pusaka Kraton Surakarta.
“Suwerrrr, saya tak melakukannya.” Jawab Barata.
Sebagai titisan Wisnu, Prabu Rama langsung kontak ke Sanghyang Betara Wisnu di kahyangan Ngutarasegara. Ternyata beliaunya membenarkan, yang asli diam-diam ditarik ke Kahyangan. Takutnya dimanipulasi pejabat siluman di Ayodya sepeninggal Rama Wijaya. (Ki Guna Watoncarita).



