Kesaksian Fayyaz, Muslim Rohingya yang Berpura-pura Mati Diantara Jasad Keluarganya

Muhammad Fayyaz, Anadolu

BANGLADESH – Muhammad Fayyaz, seorang Muslim Rohingya, selamat setelah berpura-pura meninggal selama berhari-hari dan bersembunyi diantara jenazah anggota keluarganya yang dibunuh oleh gerilyawan militer dan Budha Myanmar, bulan lalu.

Pria berusia 25 tahun ini termasuk di antara 617.500 Muslim Rohingya, yang menyeberang ke Bangladesh sejak 25 Agustus, saat kekerasan meningkat dalam berbatasan dengan negara Rakhine Myanmar.

Fayyaz, yang bekerja sebagai penerjemah Yayasan Bantuan Kemanusiaan berbasis Turki (IHH) di Bangladesh, mengatakan bahwa dia menunggu beberapa hari sampai militer Myanmar meninggalkan desanya dan kemudian berjalan melalui hutan selama 13 hari untuk mencapai Bangladesh.

“Buat suara kita didengar di dunia ini, berteriak bahwa kita ada dan melihat keluar untuk kita, kita adalah anak yatim dari ummat, kita tidak terlindungi,” katanya kepada Anadolu Agency.

“Rumah kami terbakar saat kita berada di dalam. Masjid-masjid dibakar saat para jamaah [berdoa] di dalam,” tambahnya.

“Manusia mulai diburu di hutan dan lahan. Tentara [tentara Myanmar] dan gerombolan membunuh ribuan orang secara brutal, ” ungkapnya lagi.

Halil Asa, pemimpin kelompok operasi IHH di Bangladesh, mengatakan bahwa cerita Fayyaz “sangat menyakitkan”.

“Anda bisa tahu dari matanya seluruh beban rasa sakit dan penderitaan yang dia alami,” katanya.

Asa menyatakan bahwa organisasi tersebut menyumbangkan 300 pensil dan buku tulis kepada Fayyaz, setelah dia meminta bantuan untuk mengajar 30 anak di kamp tersebut.

“Dia berusaha menyelamatkan masa depan anak-anak ini,” kata Asa.

Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai orang-orang yang paling teraniaya di dunia, telah menghadapi ketakutan yang meningkat atas serangan tersebut sejak puluhan orang terbunuh dalam kekerasan komunal pada tahun 2012.


Advertisement