Dukungan untuk Bangladesh dalam Mengatasi Krisis Rohingya

Ilustrasi Pengungsi Rohingya terima bantuan di Cox Bazar/ Reuters

DHAKA – Sebuah delegasi anggota parlemen Amerika menyebut kekejaman pasukan keamanan Myanmar pada komunitas Rohingya  sebagai kejahatan perang.

Menurut Sekretaris Pers perdana Ihasnul Karim, hal tersebut diungkapkan  selama pertemuan mereka dengan perdana menteri di ibukota Dhaka pada hari Minggu (19/11/2017).

“Ini seperti kejahatan perang,” kata Karim mengutip pemimpin delegasi Jeff Merkley kepada Perdana Menteri Sheikh Hasina Wazed di kediaman Gonobhaban-nya sehari setelah anggota parlemen AS mengunjungi kamp Rohingya di Cox’s Bazar.

Anadolu mengutip kantor berita pemerintah Bangladesh Sangbad Sanstha, jika
Karim mengatakan bahwa delegasi AS juga berkata kepada perdana menteri bahwa setiap negara harus mengutuk pembersihan etnis Rohingya.

Sementara itu, Jerman, Swedia, Jepang dan Uni Eropa juga menawarkan dukungan kuat mereka kepada Bangladesh atas isu Rohingya.

Menteri Luar Negeri Jerman Sigmar Gabriel, Menteri Luar Negeri Norwegia Margot Wallstrom, Menteri Luar Negeri Jepang Tara kono dan Perwakilan Tinggi Uni Eropa dan Wakil Presiden Federica Mogherin secara terpisah juga memberikan dukungan pada  perdana menteri di kediaman resmi Ganabhaban pada  Minggu malam.

Sejak 25 Agustus, diperkirakan 620.000 orang Rohingya telah menyeberang dari negara bagian Myanmar di Rakhine ke Bangladesh.

Para pengungsi tersebut melarikan diri dari sebuah operasi militer di mana pasukan keamanan dan gerombolan Buddha membunuh pria, wanita dan anak-anak, menjarah rumah dan membakar desa Rohingya. Menurut Menteri Luar Negeri Bangladesh Abul Hasan Mahmood Ali, sekitar 3.000 orang Rohingya tewas dalam tindakan keras tersebut.

Advertisement