
PRESIDEN Perancis Emmanuel Macron akhir pekan lalu memberikan sambutan resmi di Istana Elysee, Paris (19/11) atas kedatangan PM Lebanon Saad Hariri yang sudah mengumumkan pengunduran dirinya di Riyadh, Arab Saudi (4/11).
Macron sengaja mengundang Hariri beserta keluarganya ke Paris dalam upaya mencarikan solusi krisis Lebanon pasca pengunduran dirinya yang diduga akibat ditekan oleh otoritas Arab Saudi.
Hariri didampingi isterinya Lara Bashir dan putera sulungnya Houssam, sementara kedua puteranya yang lain, Abdel Aziz dan Louwa tidak bisa meninggalkan sekolahnya di Riyadh. Hariri yang juga pengusaha memang memiliki usaha dan rumah di Riyadh.
Perancis yang pernah menjajah Lebanon masih memiliki pengaruh kuat di negeri bekas koloninya itu sehingga kerap dilibatkan dalam upaya solusi konflik di sana.
Kancah politik di Lebanon sendiri tidak lepas dari perebutan pengaruh antara Iran yang memiliki “kaki tangan” yakni kelompok Hezbollah yang saat ini berada dalam koalisi pemerintahan dan juga Hariri yang dianggap sebagai loyalis Arab Saudi. Hariri.
Tudingan bahwa Arab Saudi telah memaksa Hariri lengser diduga kuat juga karena ia dianggap terlalu lunak pada kelompok Hezbollah binaan Iran.
Presiden Lebanon Michel Aoun meyakini, Hariri diculik, walau hal itu dibantah oleh Arab Saudi yang menyebutkan ia bebas pergi kemana saja, namun Hariri sendiri lah yang cemas atas keselamatannya sehingga memilih tinggal di Riyadh.
Undangan Raja Salman
Semula, kepergian Hariri ke Riyadh adalah untuk memenuhi undangan Raja Salman. Namun rumor terkait adanya tekanan politik dari Arab Saudi semakin santer setelah ia mengumumkan pengunduran dirinya sehari setelah berada di negeri itu (4/11).
Hariri tidak pernah lagi muncul di hadapan publik setelah pernyataan pengunduran dirinya yang begitu mendadak dan mengagetkan banyak pihak, apalagi yang menjadi tanda tanya, diumumkannya di Arab Saudi.
Namun menjelang kepergiannya ke Paris dari Riyadh, Hariri sendiri mengaku, tidak benar dirinya diculik oleh penguasa Arab Saudi seperti yang dituduhkan oleh sejumlah orang termasuk Presiden Aoun.
Menurut Hariri, ia berada di Riyadh untuk berkonsultasi dengan pimpinan negara tetangganya itu mengenai masa depan Lebanon.
Hariri setibanya di Paris langsung menelpon Presiden Aoun dan Ketua Parlemen Lebanon Nabih Berry, menyatakan bahwa ia akan kembali, Selasa guna menghadiri HUT kemerdekaan Lebanon pada keesokan harinya (22/11).
Dalam konstitusi 1953 Lebanon diatur distribusi segitiga kekuasaan yakni presiden dijabat oleh Kristen Maronite, perdana menteri dari Muslim Sunni dan ketua parlemen dari Muslim Syiah.
Opsi bagi Hariri sepulangnya ke Lebanon nanti yakni tetap menyatakan pengunduran dirinya secara resmi pada Presiden Aoun karena sejauh ini hal itu belum dilakukan atau membatalkannya.
Jika Hariri tetap ingin mengundurkan diri, Presiden Aoun tentunya harus mencari sosok perdana menteri baru.
Pilihan ada di tangan Hariri, sedangkan Perancis agaknya hanya melakukan kewajiban moral guna mencarikan solusi atas konflik di bekas negeri jajahannya itu.
(AP/AFP/Reuters/ns)




