AUSTRALIA – Menteri Luar Negeri Australia membantah klaim PBB bahwa kamp penahanan pencari suaka yang ditinggalkan di Papua NuginiĀ masih belum selesai dibangun dan tidak memadai.
Diberitakan sebelumnya, sekitar 380 tahanan pencari suaka membentengi diri di pusat penahanan Pulau Manus selama lebih dari 20 hari tanpa makanan atau air minum.
Para pencari suaka khawatir mengenai keselamatan mereka, jika dipindah ke pusat transit dan berisiko dimukimkan di Papua Nugini atau negara berkembang lain secara permanen.
Menlu Julie Bishop menyatakan bantahannya pada Rabu (22/11/2017), sebagaimana dikutip VOA dan mengatakan para pencari suaka yang berada di kamp penahananĀ dapat pindah ke akomodasi alternatif.
Para pencari suaka yang kebanyakan berasal dari Afghanistan, Iran, Myanmar, Pakistan, Sri Lanka, dan Suriah itu ditahan berdasar kebijakan keras imigrasi Australia yang menolak suaka untuk imigran yang datang melalui laut.
Masalah itu telah menarik perhatian PBB, yang sejak lama mengecam kondisi yang dialami para pencari suaka yang ditahan di kamp-kamp lepas pantai Australia.





