PBB: Emosi Sudah Terkuras Habis, Pengungsi Rohingya Jadi Pasif

Pengungsi Rohingya menanti bantuan makanan meski basah kehujanan/ Aljazeera
JENEWA – Komisaris tinggi Badan  PBB untuk pengungsi mengatakan pengungsi Muslim Rohingya menderita trauma yang selama bertahun-tahun tidak pernah diderita dan kekerasan yang dialami telah membuat mereka  kehilangan emosi.

Filippo Grandi mengatakan pada hari Rabu (22/11/20170 bahwa dia menemukan sebuah populasi yang hampir pasif.


“Anda hampir merasa tidak ada emosi yang tersisa dan semuanya telah terkuras oleh kekerasan ini,” kata pejabat PBB tersebut. “Ini adalah gejala trauma menurut saya.” tambahnya.

Komisioner Italia lebih lanjut mengatakan jenis trauma ini belum terlihat untuk waktu yang sangat lama.

“Mungkin saya pernah melihat hal seperti ini di tahun 90an di Afrika tengah,” kata Grandi.

Grandi mengatakan bahwa keberhasilan usaha kemanusiaan akan tergantung pada kehendak otoritas Myanmar untuk meredakan permusuhan terhadap pekerja kemanusiaan di Rakhine.

Pemerintah telah memblokir badan bantuan untuk memberikan bantuan kemanusiaan kepada warga sipil yang putus asa di wilayah yang dilanda kekerasan tersebut.

PBB telah menggambarkan Rohingya sebagai komunitas yang paling teraniaya di dunia, yang menyebut situasi di Rakhine serupa dengan  pembersihan etnis.

Perkiraan  jumlah Muslim yang terbunuh bervariasi dari 1.000 sampai 3.000 orang. Akar krisis tersebut adalah penolakan Myanmar untuk memberikan kewarganegaraan kepada komunitas minoritas Muslim.

Advertisement