Dituduh Peroleh Informasi Secara Tidak Sah, Wartawan Reuters di Myanmar Ditangkap

foto : Ilustrasi
MYANMAR –  Pemerintah Myanmar mengatakan bahwa polisi telah menangkap dua wartawan Reuters, Wa Lone dan Kyaw Soe Oo, karena mereka telah membahas tentang tindakan keras militer terhadap minoritas Muslim Rohingya di Negara Rahkine yang menyebabkan hampir 650.000 orang melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh.

Kementerian Informasi mengatakan dalam sebuah pernyataan di halaman Facebook bahwa wartawan dan dua polisi menghadapi tuduhan berdasarkan Undang-Undang Rahasia Resmi era kolonial Inggris dengan ancamana hukuman penjara maksimum 14 tahun.

“Para wartawan memperoleh informasi secara tidak sah dengan maksud untuk membaginya dengan media asing,” kata pernyataan tersebut, yang disertai foto pasangan yang di borgol.

Keduanya ditahan di sebuah kantor polisi di pinggiran Yangon, kota utama negara Asia Tenggara itu.

Wa Lone dan Kyaw Soe Oo hilang pada hari Selasa malam setelah mereka diundang untuk menemui petugas polisi saat makan malam.

Pengemudi Reuters Myothant Tun menurunkan mereka di kompleks Battalion 8 sekitar pukul 20:00 dan dua reporter dan dua petugas polisi menuju ke restoran terdekat. Para jurnalis tidak kembali ke mobil.

“Wartawan Reuters Wa Lone dan Kyaw Soe Oo telah melaporkan kejadian penting global di Myanmar, dan kami mengetahui hari ini bahwa mereka telah ditangkap sehubungan dengan pekerjaan mereka,” kata Stephen J. Adler, presiden dan pemimpin redaksi Reuters.

“Kami sangat marah dengan serangan terang-terangan ini terhadap kebebasan pers. Kami meminta pihak berwenang segera membebaskan mereka, “katanya.

Seorang juru bicara pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi mengkonfirmasi bahwa kedua wartawan tersebut telah ditangkap.

“Bukan hanya reporter Anda, tapi juga polisi yang terlibat dalam kasus tersebut,” kata juru bicara Zaw Htay. “Kami akan mengambil tindakan terhadap polisi tersebut dan juga reporternya.”

Sementara itu Kedutaan Besar AS di Yangon mengatakan dalam sebuah pernyataan yang diposting di situsnya pada hari Rabu bahwa pihaknya sangat prihatin dengan penangkapan dua wartawan Reuters setelah mereka diundang untuk bertemu dengan petugas polisi di Yangon.

“Agar demokrasi berhasil, wartawan harus bisa melakukan pekerjaan mereka dengan bebas,” kata kedutaan tersebut. “Kami mendesak pemerintah untuk menjelaskan penangkapan ini dan mengizinkan akses langsung ke wartawan.” tandasnya.

Advertisement