60 Ribu Anak Rohingya Masih Terjebak di Rakhine, Hidup Seperti di Penjara

Anak Rohingya menggambarkan kekerasan yang dilakukan militer/ Getty

RAKHINE – Penasihat senior UNICEF, Marixie Mercado mengatakan sulit untuk memperoleh gambaran sebenarnya mengenai anak-anak rohingya yang masih berada di rakhine, karena tidak adanya akses.

Namun, ia dapat memperoleh yang disebutnya pandangan sekilas yang merisaukan mengenai betapa menyedihkan kehidupan anak-anak yang tinggal di Rakhine Tengah.

Mercado mengatakan lebih dari 60 ribu anak Rohingya masih berada di negara bagian Rakhine, hampir terlupakan dan terjebak dalam 23 kamp tempat mereka mengungsi akibat kekerasan tahun 2012.

Mercado menggambarkan kondisi di dua kamp yang dikunjunginya belum lama ini.

“Kedua kamp berada di wilayah yang terletak di bawah permukaan laut. Hampir tidak ada pohon sama sekali. Hal pertama yang menyambut kita di kamp adalah bau yang menyengat yang membuat kita merasa mual. Bagian-bagian kamp merupakan genangan air limbah. Kemah disangga tiang-tiang, dan di bawahnya adalah sampah dan kotoran manusia. Di satu kamp, kolam tempat orang mengambil air hanya dipisahkan dari genangan air limbah dengan tanggul dari tanah,” ujar Mercado.

Mercado mengatakan anak-anak berjalan tanpa alas kaki di tanah becek dan sebagian dari mereka telah meninggal karena kecelakaan atau penyakit. Ditambahkan, sangat sulit bagi warga Rohingya itu untuk meninggalkan kamp untuk mendapat perawatan medis. Karena itu, orang minta bantuan tabib tradisional, penyedia layanan kesehatan yang tidak terlatih, atau mengobati diri sendiri.

Menurut Mercado, sebagaimana dilansir VOA, kondisi kehidupan dan akses ke layanan yang menyelamatkan jiwa sangat perlu ditingkatkan. Ditambahkan, anak-anak juga tidak dapat memperoleh pendidikan yang layak. memiliki pelatihan formal.

Advertisement