ROBOHNYA SURAU KAMI

Ilustrasi : Robohnya Surau Kami

 

Pada awalnya, kampung (negeri) dalam cerita ini tentram dengan kehidupan yg religius. Negeri yang kaya raya ini kurang dioptimalkan oleh penduduknya, termasuk seorang Kakek penunggu Surau yang hanya sibuk dengan urusan akherat saja dan malas untuk mengurusi dunia.

Kegaduhan negeri tersebut diawali oleh hadirnya sosok Ajo Sidi, pembual yang rajin bekerja. Kerja, kerja, kerja inilah semboyan hidupnya. Kepiawaiannya dalam membual dan penampilannya yang menarik membuat banyak orang terpesona dan banyak yang terpengaruh oleh tipu dayanya.

Keterbatasannya dalam ilmu agama tak menghalanginya untuk fasih bicara tentang kebenaran, termasuk ceritanya tentang Haji Soleh yang akan masuk neraka meskipun rajin beribadah. Figur ulama yg selama ini disegani, dengan mudahnya dia nista dan dipercaya oleh mereka yang awam. Akibatnya, membuat “Sang Marbot” tersebut terprovoksi hingga mati bunuh diri karena merasa bersalah.

Seiring dengan kematian “Penjaga Rumah Allah” ini, kondisi Surau yang sebelumnya makmur dan nyaman menjadi tak terawat dan rusak parah. Bahkan, akibat masyarakat yang masa bodoh tentang nilai-nilai agama, kayu Surau yang mulai lapuk digunakan sebagai bahan bakar oleh masyarakat sekitarnya.

Tulisan fenomenal karya A.A. Navis di atas bisa terjadi di negeri manapun di dunia, termasuk di negeri ini. Negeri yang mulai tak menghargai ulama dan mulai gaduh oleh pembual yang berusaha memisahkan urusan dunia dan akherat.

(Wong Kampung)

Advertisement