Ilustrasi Asap terlihat di sisi perbatasan Myanmar dari Cox's Bazar, Bangladesh, 4 September 2017/ Reuters
KUWAIT – Duta Besar PBB untuk Kuwait Mansour Ayyad Al-Otaibi mengatakan Myanmar minta kepada Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk tidak mengunjungi negaranya pada bulan Februari tahun ini.
Myanmar beralasan karena bukan saat yang tepat, namun Ayyadd menambahkan bahwa negara tersebut tidak sepenuhnya menolak perjalanan yang diajukan. Al-Otaibi mengatakan bahwa dia mencoba untuk mengorganisir kunjungan ke Myanmar selama masa kepresidenan Kuwait di Dewan Keamanan pada bulan Februari. “Kunjungan ini tidak akan terjadi pada bulan Februari. Anggota dewan lainnya mungkin akan mengadakan kunjungan semacam itu di tahap selanjutnya, mungkin pada bulan Maret atau April, “kata Al-Otaibi. “Mereka tidak menolaknya … Mereka hanya menganggap ini bukan waktu yang tepat untuk kunjungan ini.” tambahnya.
“Mereka saat ini sedang melakukan kunjungan untuk korps diplomatik di Myanmar ke negara bagian Rakhine. Mereka juga mengatakan bahwa ketegangan tinggi di negara bagian Rakhine saat ini, inilah alasan yang diberikan kepada kita oleh pemerintah Myanmar, “katanya, dilansir Reuters, Jumat (2/2/2018).
Pada bulan November, 15 anggota Dewan Keamanan mendesak pemerintah Myanmar untuk menghentikan penggunaan kekuatan militer secara berlebihan di negara bagian Rakhine dan menyatakan “keprihatinan serius atas laporan pelanggaran hak asasi manusia dan pelanggaran.”
Pernyataan oleh dewan tersebut juga meminta pemerintah Myanmar untuk memberikan akses organisasi media penuh dan tanpa hambatan di seluruh negeri untuk memastikan keamanan dan keamanan petugas medial.
Dua wartawan Reuters, Wa Lone, 31, dan Kyaw Soe Oo, 27, ditahan pada 12 Desember dan dituduh melanggar Undang-Undang Rahasia Publik negara tersebut. Mereka telah bekerja di liputan Reuters mengenai krisis di negara bagian Rakhine.